Penurunan Suku Bunga Bukan Solusi

©net
ilustrasi

 

Transbogor.co- Bank Indonesia (BI) hingga kini masih mempertahankan suku bunga acuan di level 7,5 persen. Angka tersebut tak berubah sejak periode rapat dewan gubernur BI pada Februari lalu. Pelaksana Tugas Kepala Grup Pengelolaan Relasi BI Arbonas Hutabarat mengungkapkan, bank sentral hingga kini masih mempertahankan BI rate di level 7,5 persen.

"Jika BI merasa bahwa menurunkan suku bunga merupakan obat paling mujarab, sejak awal tahun itu pasti dilakukan. Namun, BI merasa hal tersebut bukanlah obat yang mujarab," ujarnya di Bandung, belum lama ini.

BI, lanjut dia, memang sengaja menahan konsumsi masyarakat agar inflasi tetap rendah. Hal tersebut terbukti berhasil terlihat dari rendahnya inflasi Agustus 2015 yang sebesar 0,39 persen.

"Inflasi yang stabil membuat produksi bekerja dengan nyaman. Suku bunga 7,5 persen masih menjadi stimulus bagi investor," tambahnya. Terlebih, suku bunga yang relatif tinggi saat ini tidak memukul kebutuhan primer seperti sembako. Yang terimbas suku bunga tinggi adalah minat konsumsi untuk kebutuhan sekunder dan tersier.

Selain itu, alasan BI untuk tetap mempertahankan suku bunga adalah menjaga kestabilan mata uang. "Ada dua hal yang berkaitan dengan kestabilan. Yakni, posisi rupiah terhadap harga barang dan jasa serta posisi rupiah terhadap mata uang negara-negara lain," katanya.

Gejolak ekonomi global yang hingga kini masih dianggap belum memberikan kepastian juga menjadi faktor utama. Ketidakpastian tersebut terus berlangsung lantaran belum adanya keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang dikabarkan berencana menaikkan suku bunga.

Ketidakpastian itu diperparah langkah pemerintah Cina yang belum lama ini memutuskan mendevaluasi mata uangnya untuk memperbaiki kinerja ekspor Negeri Panda tersebut. Devaluasi yuan cukup memberikan pengaruh bagi Indonesia. "Sebab, setiap 1 persen penurunan ekonomi Cina akan berdampak pada perlambatan ekonomi Indonesia, yakni 0,6 persen," jelasnya. (rap/ek)

.