Indonesia Lebih Manusiawi Dibanding Australia

  Imigran gelap asal Timur Tengah menangis saat menuturkan kisahnya ketika terdampar di perairan Selatan Jawa Pangandaran, di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (8/2). Sebanyak 36 Imigran gelap dari Iran, Banglades Nepal dan Pakistan diusir polisi laut Australia, saat berlayar di perairan negara tersebut. foto: antara

Surabaya, Trans Bogor - Anggota Komisi I DPR bidang pertahanan Hayono Isman menyatakan pemerintah Indonesia lebih manusiawi dibanding Australia terkait insiden pengusiran imigran gelap yang mencari suaka politik ke perairan Indonesia.

"Kita sesalkan Australia tidak mempedulikan nyawa pengungsi karena kalau kita tolak mereka bisa mati di tengah laut," kata Hayono Isman di Surabaya Rabu (12/2).

Hayono mengatakan tujuan utama imigran gelap itu mencari suaka kepada pemerintah Australia sehingga Indonesia bukan sasaran yang dituju.

Kader Partai Demokrat itu menyebutkan pemerintah Australia telah melanggar piagam internasional soal hak azasi manusia berdasarkan Konvensi Pengungsi 1951.

Australia dinilai melanggar kewajiban hukum internasional padahal negara "Kangguru" itu terikat terhadap Konvensi dan berkewajiban melindungi setiap pengungsi yang ada di perairannya.

Akibat pengusiran imigran itu, Hayono mengungkapkan, maka Indonesia terkena dampak dari sisi anggaran dan sosial terhadap masyarakat yang didatangi pengungsi tersebut.

"Jadi harus ada solusi yang jelas bagaimana mengatasi permasalahan imigran gelap itu, karena masalah Australia ini menjadi persoalan Indonesia," ujar Hayono.

Pemerintah Indonesia, menurut Hayono sudah tegas menghormati hak azasi manusia dan dinilai lebih baik dari aspek kemanusiaan dengan menerima pengungsi gelap yang memiliki tujuan ke Australia.

Hayono percaya Kementerian Luar Negeri Indonesia dapat membicarakan polemik pengungsi pencari suaka tersebut dengan pemerintah Australia secara intensif dan berkelanjutan agar ada solusi Indonesia tidak terkena masalah pengungsi gelap tersebut. (adh/ant)

 

.