Sulit Kendaraan, Tepi Gunung Pongkor Jadi Desa Sunyi

©net
SEPI : Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Bogor yang berada dilingkungan penambangan emas, pasca magrib sudah sepi senyap lantaran kendaraan angkutan umum tidak ada.

Transbogor.co- Gunung Pongkor dengan penambang liar emas atau yang dikenal dengan sebutan gurandil memang tidak bisa dipisahkan. Informasi yang dihimpun Transbogor.co, fenomena munculnya gurandil hampir bersamaan dengan kegiatan eksplorasi emas Pongkor, yang dikelola PT Antam tbk, di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tepatnya, tahun 1988, gurandil sudah mulai berdatangan. Tapi, saat itu masih belum dipersoalkan.    

“Awalnya, gurandil jumlahnya mencapai puluhan hingga ratusan orang. Tapi, kini diperkirakan sudah mencapai ribuan orang dan berada di tempat tersebar,” tukas Ahmad Kurniawan (45), warga Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, saat diwawancarai Transbogor.co, Sabtu (19/9/2015).  

Di Gunung Pongkor memang berdiri sebuah penambangan emas resmi milik BUMN PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Warga sekitar menyebut Tambang Emas Pongkor (TEP). Tambang emas Antam ini bersebelahan dengan Taman Nasional Gunung Halimun, di Sorongan, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, yang berjarak 54 kilimeter dari Kota Bogor.

Pantauan Transbogor, dilingkungan wilayah Bantarkaret, masih sulit ditemui angkutan umum atau angkutan desa. Yang ada hanya pengemudi ojek. Terdapat 3 urat kuarsa yang mengandung emas dan perak di tambang emas PT Antam yakni urat Ciguha, urat Kubang Kicau, dan urat Ciurug.

“Kalau disini (red.Desa Bantarkaret), habis magrib sudah sepi, mas. Suasana desa kalau sudah jam 19.00 wib, sudah sepi. Habis tidak ada angkutan umum, yang ada hanya ojek,” tutur Sumiati (36), warga desa setempat yang ditemui di tempat berbeda. (feri/eko)

.