Selamatkan Perekonomian di Dalam Negeri

  Ā©Mata Warga TransBogor.co
Ryanti Suryawan

Apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa kita saat ini? Kegaduhan perpolitikan di Indonesia, melemahnya rupiah yang berdampak pada daya beli masyarakat yang menurun,beban hidup terlalu berat, laju inflasi dan tingginya harga pangan menyebabkan jumlah penduduk miskin semakin bertambah. Oleh karena itu,pemerintah diminta bertindak lebih konkret agar ekonomi nasional membaik.

Tanggung jawab lain bagi pemerintah agar ekonomi tetap terus bergerak adalah dengan menjaga keyakinan masyarakat bahwa distribusi kebutuhan dapat berjalan dengan lancar. Disadari atau tidak disadari kebutuhan pokok menjadi komoditas yang paling strategis terhadap tingkat inflasi. Dengan begitu, ketersedian bahan pokok dipasaran dapat menjaga kestabilan perekonomian ditengah masyarakat dan tentunya nasional.

Dan apakah kebijakan pemerintahan ini sudah bener-benar berpihak dan untuk kesejahteraan masyarakat?  Dimana pemerintah seolah tidak dapat berbuat banyak untuk menjaga kestabilan harga dan kebutuhan masyarakat.

Memikirkan kebijakan perekonomian yang menyangkut banyak pihak memang sangat kompleks, terlebih lagi jika kita tidak terlibat langsung didalamnya. Namun dipercaya atau tidak, sekecil apapun perubahan kebijakan akan sangat memberikan dampak yang luas dan langsung terhadap masyarakat baik dikalangan bawah maupun atas. Dan tentunya ini akan mempengaruhi keadaan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri, oleh karena itu tidak ada salahnya bila seluruh masyarakat turut membantu dan berperan aktif dalam pembangunan agar perekonomian kita stabil.

Disisi lain dengan terpuruknya rupiah saat ini tentu saja akan sangat berdampak pada tingkat kehidupan rakyat miskin,karena menurut hitungan BPS (Badan Pusat Statistik) penduduk miskin pada Maret 2015 sebesar 28,59 juta jiwa atau 11,22% dari total penduduk Indonesia. Angka ini mengalami kenaikan 0,26 % bila dibandingakan September 2014 yang sebesar 27,78 juta jiwa penduduk miskin.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya jumlah penduduk miskin,diantaranya inflasi dan laju kenaikan beras. Pada periode September 2014 – Maret 2015 terjadi inflasi sebesar 4,03%. Sedangkan untuk beras rata-rata mengalami kenaikan 14,48 % dari Rp11.433,-/kg pada September 2014 menjadi Rp13.089,-/kg. Inilah yang menjadikan faktor jumlah penduduk miskin bertambah dan mengalami kenaikan yang signifikan dan sangat mengkhawatirkan. Adapun pemicu lainnya adalah penurunan upah buruh dan inflasi pedesaan.

Memang benar bila laju perlambatan pertumbuhan ekonomi nasioanal dan global saat ini tidak terlepas dari carut marutnya atau berlarut-larutnya ketidak pastian global. Akan tetapi, denganadanya kekeliruan pemerintahan dalam menetapkan skala perioritas dibidang ekonomi justru dapat mengeskalasi tekanan bagi pertumbuhan perekonomian di tanah air itu sendiri yang justru akan sangat berdampak untuk kesejahteraan masyarakat bawah dan menengah.

Pemerintahan sepertinya tidak berdaya untuk menyikapi segala hal yang terjadi saat ini,dan menjaga kestabilan perekonomian ditanah air. Terbukti denganadanya penurunan daya beli di dalam negeri turut menurunkan sektor industri dan sektor perdagangan pun harus menanggung akibatnya yang mana mau tak mau volume produksi diturunkan, dan sebagai konsekwensinya penurunana jumlah karyawan atau yang lebih beken dengan sebutan PHK massal.  Hal ini tentu saja mempengaruhi kehidupan rakyat dan perekonomian ditingkatan masyarakat bawah – menengah hingga nasional.

Perekomonian Indonesia saat ini menampakan gejala kritis, itu karena kekuatan ekonomi kita melemah dengan melemahnya rupiah. Melihat situasi yang boleh dibilang genting dan mengkhwatirkan ini diharapakan pemerintah dapat mengambil langkah atau kebijakan yang lebih konkret dengan membenahi penyerapan anggaran APBN menjadi faktor yang sangat dominan bagi kelanjutan atau perubahan perekonomian yang lebih baik secara nasioanal. Karena ini akan sangat berdampak pada kesenjangankehidupan dan kebutuhan daya beli masyarakat untuk dapat memenuhi segala kebutuhannya.

Adanya kegaduhan atau yang lebih kita kenal dengan yang namanya konflik ditingkatan perpolitikan di tanah air tentu saja akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di negeri ini.  Konflik di pemerintahan pusat hingga pemerintahan daerah menjadikan terabaikannya kedaulatan ekonomi secara nasional. Mengapa? Karena banyak sekali SDA strategis kita yang akhirnya diambil atau dimanfaatkan oleh pihak asing. Tentu saja hal ini akan sangat berdampak terhadap perekonomian didalam negeri itu sendiri yang manaumumnya tidak memihak pada masyarakat kita sendiri. Ditambah lagi dengan yang namanya persaingan tidak sehat antara produk lokal dan

impor yang tentunya hal ini akan menambah catatan merah bagi raport pemerintahan dan perekonomian nasiaonal kita.Hal-hal ini lah yang sebenarnya harus dibenahi oleh pemerintahan kita saat ini dengan tujuan untuk mengembalikan kedaulatan dan laju pertumbuhan perekonomian kita ke arah yang lebih baik.

Kegaduhan dan keguncangan perekonomian Indonesia ini seharusnya tidak perlu terjadi, mengingat Indonesia mempunyai pengalaman yang cukup dan sangat baik dalam membangun perekonomian mandiri. Eksistensi perekonomian lokal selayaknya perlu ditingkatkan kembali karena ini akan sangat berdampak untuk memperbaiki perekonomian ditingkatan masyrakat. Idealisme serta komitmen untuk lebih mencintai produk lokal atau produk dalam negeri dapat untuk mengembalikan jati diri dan perbaikan ekonomi secara nasional. Dengan mencintai produk dalam negeri akan memperkuat dan menjaga kestabilan ekonomi kita yang tentunya akan berdampak bagi masyarakat didalam negeri kita sendiri.

Perhatian pemerintah juga perlu ditujukan pada sistem sarana produksi untuk meningkatkan komoditas primer pada produksi micro kecil menengah. Hal ini dibutuhkan dan harus menjadi perhatian khusus pemerintahan kita saat ini. Karena apapun yang terjadi pada keadaan perekonomian nasional dan global akan berdampak pada kesejahteraan bangsa dan rakyat kita.Semoga pemerintahan saat ini lebih fokus untuk dapat memperjuangkan kedaulatan NKRI.

 

Bogor, 21 Sep 2015

Ryanti Suryawan

.