Setetes Air untuk Esok yang Lebih Baik

©Transbogor
Eko Octa

Air, dalam kehidupan merupakan ketergantungan semua mahluk hidup, terutama manusia. Tanpa air, tidak akan pernah ada kehidupan. Namun, nilai manfaat pelestarian air acap terabaikan. Terbukti dalam tata ruang kota, banyak daerah resapan air kini berubah menjadi bangunan beton, berupa industri hingga perumahan. Dampaknya, kebutuhan air pun menjadi langka.

Penghijauan pun kini tidak lagi menjadi yang utama, demi menghamba pada komersialisasi usaha, juga atasnama peningkatan Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) suatu daerah. Sebut saja sejumlah contoh dilingkungan Bogor seperti di kawasan Leuwiliang, Cileungsi, Puncak, hingga sepanjang jalur Ciawi menuju Lido. Hal yang sama juga terjadi di Kota Bogor, dengan berubahnya daerah resapan air di wilayah Kecamatan Bogor Selatan menjadi perumahan juga bangunan komersil.      

Sejatinya, hampir 2/3 dari tubuh manusia berisikan air. Dan sekitar 72% dunia tertutup air. Namun, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan pembangunan gedung-gedung yang menjalar ke mana -mana membuat air bersih yang dahulu berlimpah kini sulit didapat.

Tak jarang ada daerah-daerah yang kekurangan air maupun air bersih karena keteledoran manusia sendiri dalam pemanfaatan air. Hal yang pasti, air bersih membuat hidup lebih sehat, kini kian terabaikan karena ulah salah manusia yang membuat penyebab dan akibatnya akan dirasakan di waktu mendatang. 

Kelangkaan air bersih memang masih belum dirasakan oleh kita yang masih tinggal di daerah pasokan air PDAM lancar. Apalagi masyarakat kota umumnya memakai airmineral kemasan untuk konsumsi. Berbeda dengan warga pedesaan. Untuk mendapatkan air bersih, tidak jarang harus antri. Dan, bila tidak tercukupi, mereka menggunakan air tidak bersih seperti air got, air kubangan, air sungai, air sumur atau tanah juga air hujan.

Lalu, apa yang menjadi penyebabnya? Di tengah kebutuhan sumber air bersih yang terus meningkat. Tapi, sisi lain, pembuangan limbah di sungai, di tambah dengan kurang sadarnya masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian air bersih juga makin menjadi-jadi. Hal ini bisa terlihat dengan maraknya pembalakan hutan dan sampah yang berserakan di aliran sungai.

Air bersih bukan hanya untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus, tapi juga dikonsumsi sebagai air minum. Jika sekarang air bersih habis, maka sudah dapat dipastikan banyak rakyat yang akan menderita, kelaparan, gizi buruk, dan penyakit di mana-mana akan menimpa masyarakat.

Hutan yang sebelumnya berfungi sebagai penampung air hujan, kini seperti tinggal cerita indah masa lalu dengan kehijauannya, karena telah dibabat habis membuat tanah tidak mampu menampung curah hujan sehingga terjadi banjir dan longsor.

Demikian juga dengan air sungai yang bisa digunakan untuk mandi atau mencucui kini hampir tidak bisa digunakan. Aliran sungai atau irigasi menjadi tidak lancar dan berwarna keruh adakalanya berwarna hitam dan berbau busuk.

Pemanfaatan Air

Mengingat air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup, terutama bagi manusia, maka air memegang peran yang sangat vital. Pengeksploitasiannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan hidup kita, dan tidak perlu pengeksploitasiannya dilakukan secara berlebihan.

Masyarakat perlu menyadari bahwa sumber daya air yang diperlukan untuk kebutuhan hidup, khususnya manusia adalah air tawar dan keberadaan air tawar ini umumnya terletak di daratan dengan jumlah hanya 3% dari keseluruhan jumlah air yang terdapat di bumi karena 97% sisanya berupa air asin/payau yang terdapat di laut dan lautan/samudera.

Upaya Permanfaatan Air

Faktor curah hujan, kondisi hutan dan tatanan tanah berperan penting dalam menentukan besar kecilnya potensi air di suatu daerah. Jadi, dalam upaya pelestarian air ini, ada beberapa hal yang wajib menjadi perhatian untuk menghindari terjadinya ketidak-seimbangan ekosistem.

Contohnya seperti kondisi hutan, serta kawasan hijau di suatu wilayah harus tetap dijaga dengan baik, mengingat fungsi penghijauan diatas permukaan tanah adalah sebagai media pembantu peresapan air ke dalam tanah, selain juga berfungsi sebagai penghambat proses erosi tanah dan penggundulan.

Tatanan geologi tidak boleh dirusak. Pengeksploitasian bahan galian yang terdapat di dalam tanah dan aktifitas pembangunan diatas permukaan tanah harus dilakukan secara tersestim dan terkendali. Diperlukan peran pemerintah daerah yang peka terhadap lingkungan. Misalnya, jika terdapat lahan kritis, secepatnya diambil langkah melakukan reboisasi dengan tanaman-tanaman yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut.

Hal lain yang perlu dilakukan pemerintah daerah yakni membuat pelarangan aliran-aliran air sungai tidak dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Karena, bisa mengakibatkan terjadinya pencemaran terhadap air yang dapat meresap ke dalam tanah. Guna memastikan tidak terjadi pencemaran suangai, perlu dibuat payung hukum yang bersifat memaksa dan memberi sanksi bagi pelanggarnya. Upaya yang ditempuh diantarnay dengan peraturan daerah (perda) atau peraturan walikota (perwali) atau peraturan bupati (perbup).

Selain itu, pengeksploitasian air tanah harus terkendali, penggunaan air harus disesuaikan dengan kebutuhan, baik kebutuhan untuk rumah tangga, industri dan lain-lain. Pada kawasan-kawasan perumahan dan rumah-rumah penduduk yang padat diwajbkan membuat lubang-lubang peresapan air, sehingga pada saat musim hujan, air dapat terserap ke dalam tanah dan tidak terbuang secara percuma.

Kemitraan SDA

Guna melakukan pelestarian sumber daya air, tidak cukup dengan kesadaran masyarakat semata. Namun, peranan dan tanggung jawab yang sama antara stakeholders bidang sumber daya air, yang melibatkan pemerintah, dunia usaha serta masyarakat.

Pola kemitraan tersebut yakni peran pemerintah sebagai regulator, administrator, operator, konseptor dan penyandang dana. Sementara, dunia usaha berperan sebagai inspirator, operator juga campur tangan biaya melalui tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Dan, masyarakat sebagai pengontrol dan penggiat.

Pemerintah berkewajiban memberikan penyuluhan tentang upaya-upaya penyelamatan sumber daya air kepada publik dan memberikan motivasi agar masyarakat merasa ikut bertanggung- jawab terhadap keselamatan sumber daya air. Jika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat saling berinteraksi dan bersinergi dengan baik, maka diharapkan dalam pengelolaan sumber daya air bisa optimal dan diperbarui. 

Peran Masyarakat

Masyarakat perkotaan dan desa dapat berperan aktif menjaga ketersediaan air  dengan membuat tanah mampu menyerap air dan juga membuat tempat resapan di sekitar rumah. Idealnya, dalam membangun rumah halaman tidak semuanya disemen. Tapi, perlu disisakan 30 persen sebagai ruang terbuka hijau.  

Masyarakat bisa memodifikasi lansekap dengan membuat sejumlah parit kecil dan cekungan dangkal di pekarangan rumah. Cekungan dangkal, parit atau kolam dapat airnya dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan  dan juga membantu pemeliharaan tanaman dan pepohonan.

Selain pembuatan cekungan atau parit, pembuatan sumur resapan dan biopori di tiap rumah akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi limpahan air dengan menyerapnya ke dalam tanah. Pekarangan rumah walaupun sempit, juga dapat dimanfaatkan untuk menanam tumbuhan yang bermanfaat dalam pot.

Minimnya lahan di perkotaan karena habis untuk bangunan rumah menyebabkan kurangnya tempat-tempat resapan air. Alternatif  untuk pembuatan sumur resapan air karena terbatasnya lahan halaman rumah untuk pembuatan sumur resapan air dapat dilakukan secara kolektif  untuk setiap beberapa rumah di lahan yang masih kosong di pemukiman tersebut.

Salah satu upaya lain pelestarian sumber daya alam bagi masyarakat adalah melestarikan hutan kota. Hutan kota tidak hanya hutan di pedalaman, namun pemukiman penduduk dari kampung sampai dengan kota besar pun memiliki hutan untuk konservasi alam. Hutan kota yang dimaksud adalah ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah pemukiman yang berfungsi sebagai proteksi dan reservasi terhadap sumber daya air, sumber udara segar, keindahan tata ruang pemukiman dan estetika serta rekreasi khusus lainnya. (*)

 

Penulis : Eko Octa

Redaktur Transbogor

.