Waspadai Penyakit Leptospirosis di Musim Penghujan

  foto:ilustrasi

Pada musim penghujan ini, banyak penyakit yang perlu diwaspadai. Tidak hanya para warga yang berada di lokasi  rawan banjir, tetapi juga bagi masyarakat yang tinggal di daerah bebas banjir. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Rubaeah mengingatkan, untuk wilayah yang terendam banjir, penyakit yang biasa muncul adalah leptospirosis. Penyakit ini biasanya timbul akibat kencing tikus yang bercampur dengan air genangan banjir.

Sebab itu, kawasan yang terendam banjir perlu segera dibersihkan dengan disinfektan maupun pembersih lantai. Tentu yang terpenting  masyarakat di sekitar lokasi tang terkena banjir harus mewaspadai penyakit ini.

"Selain itu, masyarakat juga perlu menggunakan sepatu boot agar terhindar dari penyakit ini," kata Rubaeah, Rabu (29/1).

Selain penyakit leptospirosis, penyakit diare dan gatal-gatal pun sering menyerang warga di pengungsian. Sementara, untuk masyarakat yang tidak berada di kawasan banjir, perlu juga mewaspadai timbulnya penyakit hepatitis A pada musim penghujan. Penyakit ini  disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh kotoran atau tinja penderita dan biasanya melalui makanan.

"Kita tidak ingin Bogor mengalami kejadian serupa seperti di Bandung dan Depok beberapa waktu lalu sehingga upaya penanggulangan terus dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan yang paling penting," ungkap Rubaeah.

Sosialisasi juga terus dilakukan kepada masyarakat luas melalui petugas kesehatan di tingkat puskesmas dan siswa sekolah.

"Kita memfokuskan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Soalnya penyakit ini biasanya mudah menular di sekolah. Dalam satu kelas ada satu saja yang kena bisa menyebar penyakitnya," tambah Rubaeah.

Biasakan Cuci Tangan

Pada September tahun lalu, sebanyak 11 warga Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Utara terserang hepatitis A. Namun, kejadian tersebut belum dikategorikan sebagai kejadian luar biasa. Meski demikian, adanya penyakit ini patut diwaspadai. Pencegahan penyakit ini pun sebenarnya mudah karena semua berawal dari pola hidup sehat. Salah satunya dengan membiasakan diri mencuci tangan setelah beraktivitas.

"Masyarakat kerap menganggap remeh mencuci tangan. Padahal ini sangat efektif mencegah penularan penyakit," kata Rubaeah menekankan. Pada musim penghujan ini, risiko penularan virus hepatitis A cukup tinggi. Apalagi Bogor di kelilingi dua sungai besar. Belum lagi, kebiasaan buruk masyarakat yang buang air besar di sungai pun masih banyak sehingga peluang penularan penyakit ini masih besar terjadi.

Penularan hepatitis A sangat tergantung pada higienitas. Misalnya saja cara memasak dan kualitas air yang digunakan masyarakat sangat berpengaruh terhadap penularan virus tersebut. Selain hepatitis A, pada musim penghujan ini, Bogor juga terancam wabah penyakit lain seperti tipus, diare, demam dan ISPA.

"Hampir semuanya karena pola hidup yang tidak sehat. Jadi sebenarnya kunci utamanya ada di diri kita sendiri, yakni membiasakan pola hidup sehat," tuturnya.

Sementara untuk penyakit DBD, biasanya malah marak terjadi pada musim kemarau basah atau musim peralihan. Sebab, biasanya genangan air yang disukai oleh nyamuk terjadi pada musim kemarau basah atau di mana hujan tiba-tiba kemudian panas. Namun demikian, adanya barang bekas yang menyimpan air di musim penghujan juga tidak lepas dari pemicu pertumbuhan jentik-jentik nyamuk. Apalagi, tidak semua air hujan mengalir bersama derasnya hujan.

"Meski kemungkinannya lebih kecil karena nyamuk tidak punya kesempatan banyak untuk berkembang biak. Baru bertelur, telurnya sudah tersapu air hujan lagi," ujar Rubaeah.

Data Puskesmas Sering Terlambat

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, melalui Surat Nomor : 443.33/156/P2PKL perihal antisisipasi peningkatan kasus penyakit yang disebabkan oleh musim hujan dan hari besar keagamaan, yang ditujukan kepada Kepala Puskesmas se-Kabupaten Bogor, disebutkan beberapa penyakit yang patut diwaspadai ketika musim hujan. Diantaranya, diare, deman berdarah dengue, chikungunya, leptopirosis, flu burung, antraks dan kejadian keracunan makanan.

Kepala Bidang (Kabid) P2PKL Dinkes, Eulis Wulantari mengatakan, meskipun beberapa penyakit tersebut patut diwaspadai, namun data yang diterima dari masing-masing puskesmas di Kabupaten Bogor  justru belum terdapat angka yang fantastis.

" Datanya biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan jumlah pasien akibat musim hujan. pasien chikungunya hanya 10 orang se-Kabupaten Bogor, itupun hsail Lab-nya negative. Artinya hanya gejala lho ya. Kalau memang ada KLB (Kejadian Luar Biasa), pasti puskesmas update datanya melalui EWARS, sistem informasi yang kita pakai sekarang, " tutur Dr Eulis membuka penjelasan mengenai wabah penyakit di musim penghujan daerah Kabupaten Bogor, kepada Trans Bogor dikantornya, Jumat (24/1).

Menurut Eulis, informasi mengenai wabah penyakit yang mungkin terjadi dan diantisipasi Dinkes, sudah lengkap tercantum dalam surat edaran kepada Kepala UPT Puskesmas se-Kabupaten Bogor tersebut.

 " Edaran ini baru kita edarkan minggu lalu, info-nya lihat saja disitu, " ucapnya. 

Tapi, update informasi dari UPT mengenai data pasien diakui Eulis masih ada kendala. Pasalnya, kerap kali pihak Puskesmas masih terlambat mengabarkan  data yang seharusnya update melalui sistem informasi yang sudah tergolong canggih ini

 

 "EWARS itu, Early Warnnes Alert Respon System. Jadi, laporan penyakit dan pasien bisa langsung dikirim dari UPT Puskesmas. Selain itu kita ada hot line yang bisa dihubungi 24 jam. Ya tapi kendalanya, teman-teman di lapangan masih kadang telat ngirim data, itu kendala kita", jelasnya.

 

Menurut Eulis, masyarakat pun bisa langsung menggunakan hot line Dinkes untuk memberi info terkini tentang wabah penyakit yang terjadi diwilayahnya, sesegera mungkin selama 24 jam.

"Kita kan ada hot line, jadi kalau mereka ada KLB, misal keracunan makanan, masyarakat, RT RW bisa lapor langsung lewat hot line tersebut. Atau pak RT dan RW-nya bisa lapor ke kecamatan, nanti pihak kecamatan wajib memberi info ke puskesmas", terangnya.

 Ditambahkan Eulis, nomor hot line  yaitu 08129509276, 081315303112, seharusnya disimpan seluruh masyarakat sehingga dapat langsung melaporkan masalah kesehatan yang terjadi di wilayahnya masing-masing. 

Pembinaan Staf Puskemas

 Tugas UPT Puskesmas apabila terjadi KLB, diantaranya segera mengobati, menyiapkan kebutuhan logistik, melaporkan segera KLB ke Dinkes bidang P2PKL, juga melaksanakan investigasi atau pelacakan lokasi kejadian tentang besaran KLB. Baik jumlah penderita, penyebab KLB, faktor risiko, pengambilan sampel untuk penegakan diagnosa pasti KLB, memberi penyuluhan dan dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan lintas sektor yang terkait.

Mengenai seringnya terjadi keterlambatan pengririman data kesehatan masyarakat dari pihak UPT, Eulis menyatakan pihaknya akan segera mengadakan pembinaan kepada para staf puskesmas di seluruh Kabupaten Bogor.

 

" EWARS itu, ada kasus tidak ada kasus, UPT harus tetap kirim data. Bukan berarti tidak ada pasien lalu tidak kirim data. Di kita ini kan kebiasaannya, kalau nihil itu dianggap tidak ada data, padahal nihil itu ya tulis nol saja, bukan juga strip (-) saja, itu malah membuat pertanyaan. Ke depan kita akan lakukan pembinaan ke mereka, " tegas Eulis.

Kota Bogor Masih  Aman

Menurut Ismawati Solihat, Staf Divisi Penanggulangan Bencana, Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kota Bogor menyatakan belum terdapat laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap penyebaran penyakit tertentu yang diakibatkan musim penghujan ataupun kebanjiran.

 “Belum terdapat pasien yang sakit akibat bencana banjir yang diakibatkan derasnya hujan beberapa pekan terakhir ini.  ngga ada data, di wilayah kota engga ada ya. Karena kan kita tidak kena banjir. Kalau pun ada, itu yang kena longsor kemarin di wilayah Cisarua, itu pun hanya satu rumah dengan jumlah anggota keluarga lima orang, " tutur Ismawati, Senin (27/1).

 "Itu yang terdata di kita (PMI-Red), kalau jumlah pasien datanya ke rumah sakit, kita lebih ke PMR dan data bencana. Wilayah Bogor ini tidak seperti wilayah lain yang terkena banjir, pasalnya Bogor Kota adalah dataran tinggi. Kita kan diatas ya, jadi engga kena banjir, paling longsor yang saya bilang tadi, " ucapnya.

 Korban longsor, kata Ismawati tidak ada  yang luka parah. Luka ringan pun hanya sedikit dari 5 orang anggota keluarga dari Cisarua tersebut, "Hanya ada dua sampai tiga orang yang luka ringan, itu pun paling keseleo akibat menghindari reruntuhan. Kalau untuk penyakit, sejauh ini memang belum ada laporan " ungkapnya.

Warga Sudah Peduli Kesehatan

Warga masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan terutama di musim penghujan yang rawan penyakit. Seperti yang diungkapkan Eulis (30) warga Kampung Warung Loak, Desa Tamansarui, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Menurut dia, setiap warga wajib menjaga kesehatan pribadinya masing-masing.

“Tubuh butuh asupan vitamin, itu penting. Jika timbul penyebaran penyakit, biasanya kan karena di wilayah tersebut warganya tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Jangan menunggu dulu jatuh korban, baru pada sadar. Jangan semuanya bergantung dengan pemerintah, kalau mau sehat ya dimulai dari diri sendiri dulu. Kalau sakit baru ke puskesmas terdekat, biar cepat diobati. Sejauh ini warga di sekitar kami paling kena penyakit batuk, pilek dan demam. Penyakit musim hujanlah, paling kami ke puskesmas,” kata Eulis, Selasa (28/1).

 Hal senada juga diutarakan Moch Isnan warga Kampung Curug RW 02 RW 01 Kelurahan Parakan, Kecamatan Cibinong. Menurutnya, memang dibutuhkan kesadaran warga untuk  menjaga kesehatan  dan kebersihan lingkungan.

.