Hindari Tawuran, Polisi Perlu Lakukan Antisipasi Dini

©net
Ilustrasi

Transbogor.co- Guna mengantisipasi tawuran pelajar, Polres Bogor kini sudah menggiatkan pembinaan terhadap siswa. Hal itu disampaikan Kapolres Bogor AKBP Suyudi Ario Seto, pasca tewasnya M.Yossi, pelajar SMK YPUI Parung yang dibacok lehernya menggunakan celurit saat tawuran.

"Saya sangat prihatin dengan kejadian tawuran pelajar. Supaya peristiwa serupa tidak terjadi, petugas akan rutin menyambangi sekolah-sekolah. Baik itu tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi," ujarnya kepada Transbogor, Selasa (6/10/2015).

Sejauh ini, sambungnya, Polres sudah sering memberikan pengarahan tentang sanksi atau hukuman bila terlibat perkelahian. Apa lagi sampai menghilangkan nyawa seseorang.

"Tujuannya, agar mereka merasa segan, sehingga akan timbul kesadaran dari dirinya masing-masing untuk tidak melakukan tawuran" kata Suyudi.

Kapolres juga berharap kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, serta Dinas Pendidikan (Disdik) dan orang tua untuk sama-sama memberikan peranannya dalam mengatasi masalah itu.

 "Ini tidak logis, saat pelajar dari pegara lain berlomba-lomba dalam prestasi kita masih saja berkelahi antar sesama anak Bangsa," ucapnya.

Pada bagian lain, Fery Aryanto, Direktur Program SOS Children Village’s menyebut tawuran pelajar belakangan ini sudah memasuki tahap menjadi budaya karena frekuensinya sangat sering

“Selain itu, pelajar saat ini juga tidak lagi takut membawa senjata tajam hingga menghilangkan nyawa orang lain. Saya kira, hal ini sudah bisa disebut sebagai kebiasan buruk yang kerap dilakukan. Dan, harus diberantas,” tukas aktivis pendamping anak terlantar melalui telepon.

Guna mengubah kebiasaan itu, lanjutnya, perlu peran serta kepolisian. Sebab, sejauh ini peran guru, orangtua siswa, hingga tokoh masyarakat untuk menimalisir tawuran pelajar tidak optimal.

“Akan lebih baik bila petugas kepolisian di tiap polsek membentuk satgas anti tawuran. Tugasnya, selain melakukan patroli, juga melakukan antisipasi dini atau tugas intelijen. Setiap seminggu sekali, satgas tersebut juga wajib melakukan razia preman pelajar atau sidak sekolah yang rawan tawuran. Konsep ini memungkinkan membuat jera pelajar melakukan tawuran,” tuntasnya. (feri/ek)     

.