PKL, Pejalan Kaki dan Angkot, Biang Macet Bojong Gede

┬ętempo
ilustrasi

Transbogor.co- Kesemrawutan lalu lintas di Bojong Gede, tepatnya Stasiun Bojong Gede, memang sudah menjadi permasalahan serius bagi warga. Hampir setiap hari, kepadatan kendaraan selalu menjadi hal yang biasa terutama pada jam-jam kerja, baik pagi maupun petang.

Camat Bojong Gede, Dace Jajang Hatomi sendiri tak memungkiri kesewarutan tersebut. Namun, dirinya bukan tak pernah bersikap. Menurutnya, sejumlah langkah sudah coba dilakukan mulai dari menjalin komunikasi dengan PT KAI hingga memberikan masukan langsung kepada Kepala DLLAJ Kabupaten Bogor, R. Soebiantoro.

"Sudah kita bicarakan untuk mencari solusinya, tapi memang hingga saat ini belum ada tindak lanjut," kata Dace saat ditemui Transbogor, Jumat (9/10/2015).

Lebih lanjut, Camat memaparkan, belum terealisasinya koordinasi disebabkan terbatasnya ranah kewenangan masing-masing satuan kerja. "Kami kan para anak buah. Jadi untuk terwujudnya hal itu harus ada persetujuan dari masing-masing pimpinan. Dalam hal ini bupati dan Dirut PT KAI," sebutnya.

Dace sendiri memiliki usul untuk memugar kesemrawutan di wilayahnya. Menurutnya, harus ada jembatan penyebrangan orang (JPO) yang terintegrasi langsung antara terminal dengan statsiun plus penambangan loket tiket KRL di dalam terminal. "Sehingga para penumpang tak tumpah ke jalan dan angkot pun akan masuk terminal," urainya.

Tak hanya itu, Dace juga mengusulkan dibukanya jalan tembus yang menuju Kampung Pulo sehingga akses angkot tak hanya melewati jalur utama yang selama ini menjadi titik kemacetan. "Selain itu, dioptimalkan juga peran terminal dengan menampung PKL dan temoat penitipan motor di salah satu bagiannya dengan penataan yang ciamik. Saya yakin dengan begitu kemacetan tak akan terjadi," pungkasnya. (rifan/ek)

.