Menunggu Janji Bupati

  foto:Dok

SEBENARNYA,   setiap orang dapat belajar dari sejarah. Termasuk  dengan pepatah lama, yang telah menjadi  perenungan masa lalu  hingga sekarang.  Salah satunya, tentang:  jangan berjanji  jika kau tak sanggup untuk menepati.  Sebab, sebuah janji adalah hutang.  Hutang, hukumnya wajib untuk dilunasi, apapun kondisi dan alasannya.

 Jika tidak, maka Anda pun harus siap untuk memahami pepatah kuno berikutnya:  sekali lancung ke ujian, seumur  hidup orang tak percaya lagi.  Sebab, mulutmu adalah harimaumu, dan engkau tak akan pernah bisa membeli harga diri.

Sayangnya, tak banyak orang bersedia memahami pepatah kuno ini. Termasuk sejumlah pemimpin, yang kerap mengumbar janji manis pada masa kampanye agar dapat terpilih. Janji-janji manis yang ditebar, dipastikan mengenai hal-hal yang menjadi impian sejuta umat: kemajuan.  Mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, hingga meningkatkan derajat kesejahteraan.  Jika ternyata setelah memimpin, sang penebar janji tiba-tiba ingkar, rakyatlah yang menjadi korban tunggal.

Kondisi ini pula yang dialami warga Kecamatan Gunung Putri, yang resah selama dua tahun terakhir menanti janji sang bupati untuk memperbaiki Jalan Mercedes Benz. Jalan di wilayah ini, lebih mirip tempat pemandian kerbau dari pada sebuah jalan.  Jangan ditanya soal kerawanan berlalu lintas, kendaraan pun dijamin rusak berat jika sering-sering melintas. Semua warga mengeluh, para sopir meringis, dan LSM pun berseru. Apalagi sang bupati selalu mengobral janji untuk membangun jalan ini saat boling (rebo keliling) dan jumling (jumat keliling).

Capek menunggu janji bupati, pihak Paguyuban Perusahaan (kelompok perusahaan-perusahaan di sekitar jalan tersebut) pun berusaha pelan-pelan memperbaiki kondisi jalan. Tetapi lagi-lagi, pergerakan mereka pun jadi lamban. Terbentur birokrasi panjang. Karena memperbaiki jalan secara swadaya, ternyata perlu rekomendasi Dinas Bina Marga dan Pengairan segala. Waduh!

Padahal, wilayah timur Bogor ini merupakan penyumbang PAD terbesar. Bahkan hingga 60 persen. Justru yang mengenaskan, jangankan bertanya soal pemerataan pembangunan. Jalan-jalan di wilayah ini saja bahkan jauh dari mulus.  Bahkan kondisinya sangat membahayakan. Target perbaikan jalan yang rencananya sejak tahun lalu, bahkan hingga detik ini belum juga diselenggarakan. 

Entah kapan, jalan impian warga Kecamatan Gunung Putri dapat terwujud atau keluhan warga dapat didengarkan. Karena mungkin, sang pejabat memang tidak mengenal pepatah lama. Melainkan mungkin justru malah lebih mengenal istilah baru yang memang cocok dilontarkan kepada warga yang terus mempertanyakan kinerjanya:  Emang masbuloh (masalah buat loh?)…

 

 

.