Tidak Ada Pembelian Satwa di Kebun Binatang

  foto:Dok

Bogor, Trans Bogor
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Kebun Binatang se-Indonesia yang juga Direktur Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau, membantah adanya jual beli satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) seperti yang dituduhkan oleh sejumlah pihak yang berujung pada pelaporan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.

Menurut Tony, memang ada 300 satwa yang dikeluarkan dari KBS dan dipindahkan ke beberapa kebun binatang serta masyarakat. Namun, bukan untuk diperjualbelikan. Pemindahan satwa itu dilakukan demi kesejahteraan satwa sendiri karena kondisi KBS sudah kelebihan populasi. Sehingga sejumlah satwa harus dikeluarkan dari KBS agar satwa yang ada cukup layak tempat tinggalnya dan cukup makanannya.

"Ada 300 satwa yang kita keluarkan. Tapi bukan diperjual belikan. Kalau dijual, sudah kaya atuh, saya," ujar Tony, Kamis (30/1). Ada juga beberapa satwa yang memang dititipkan ke masyarakat dengan izin Kementerian Kehutanan.

Tujuannya, setelah bisa berkembang biak, sekitar 10 persennya bisa dilepasliarkan ke alam bebas. "Ada rusa bawean, jalak bali hingga elang yang kita lepasliarkan. Tapi malah dibilang dijual. Biarlah nanti kebenaran juga akan muncul. Makanya biarkan nanti pengadilan yang membuktikan," kata Tony.

Menurut Tony, tidak mudah mengelola kebun binatang karena membutuhkan biaya yang mahal untuk dokter dan tenaga ahli lainnya. Kebun binatang yang dinyatakan sudah penuh pun, harus mengeluarkan satwanya agar kehidupan satwa di dalam kebun binatang tetap baik. Namun, selama ini tidak banyak kebun binatang yang melakukan hal itu.

Hal yang sama juga disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sebelumnya. Dia menegaskan, tidak ada jual beli satwa antarkebun binatang. Malahan, perpindahan atau tukar menukar satwa menjadi hal biasa dan baik untuk satwa. Sebab, jika tidak satwa akan melakukan perkawinan sedarah selama bertahun-tahun yang berakibat berkurangnya imun pada keturunannya.

Menurut Zulkifli, kawin silang satwa antarkebun binatang serta perpindahan satwa dari satu kebun binatang ke kebun binatang lainnya merupakan salah satu upaya penyelamatan satwa dan atas izin Kementerian Kehutanan. "Kalau satwa hanya dikawinkan dengan yang sekandang saja, yang terjadi inbreeding. Hasil keturunannya semakin tidak imun sehingga mudah mati. Makanya, kadang satwa dibawa ke kebun binatang lain untuk dikawinkan untuk perbaikan keturunan," ujar Zulkifli.

Ketidaktahuan pengelola kebun binatang atau masyarakat luas akan hal ini menyebabkan banyak tuduhan miring kepada Kementerian Kehutanan yang mengizinkan jual beli satwa.

"Bukan jual beli selama ada izin dari Menteri Kehutanan. Kalau keluar negeri berarti harus ada izin dari Presiden. Jadi kalau ada hewan pindah ke kebun binatang lain, bukan berarti dijual atau dicuri. Kecuali memang tidak ada izin dari Kemenhut," tutur Zulkifli.

Dicontohkan Zulkifli, adanya badak cula satu di kebun binatang di Amerika itu juga masih menjadi milik dan aset Indonesia. Hal itu tidak berarti Amerika Serikat membeli atau menjadi pemilik badak. Jika nanti badak itu beranak pun, masih menjadi aset Indonesia yang ada di Amerika.

Hal yang sama juga terjadi ketika Taman Safari Indonesia berencana melengkapi koleksinya dengan panda dari Cina. "Itu juga masih milik Cina. Nanti kalau beranak pun itu punya Cina, bukan punya kita," tambah Zulkifli. Ketidaktahuan pengelola kebun binatang, lanjut Zulkifli terkadang malah membuat satwa cepat mati, misalnya dalam kasus inbreeding.

"Bayangkan, Kebun Binatang Surabaya sudah 98 tahun, satwanya dalam satu kandang yang dikawinkan itu-itu saja. Keturunannya tidak punya imun kuat sehingga cepat mati. Sekarang giliran dikawin silang dan dilepasliarkan, malah dibilang dijual sama kita," ujar Zulkifli.

Tidak hanya di KBS, Zulkifli menduga kejadian serupa juga ada di kebun binatang lainnya, karena memang tidak selalu bisa menitipkan satwa untuk dikawinsilangkan. (wid/den)

.