Dewie Yasin Limpo, Anggota DPR ke 82 Ditangkap KPK

©net
ilustrasi

Transbogor.co- Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat, Dewie Yasin Limpo menjadi politisi ke-82 yang dikandangin sejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) KPK berdiri pada 2002. Jadi, terasa wajar banyak partai politik lewat fraksinya di DPR berniat melemahkan KPK melalui revisi undang-undang. Pasalnya, sampai saat ini KPK menjadi momok yang menakutkan. 

"Barangkali ini alasan mengapa banyak partai politik yang tidak suka dengan KPK dan lebih ingin lembaga ini bubar atau dilemahkan," kata aktivis ICW Emerson Yuntho dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/10/2015).

Selama setahun DPR periode 2014-2019 berjalan, sudah ada tiga anggota yang terjerat oleh KPK. Sebelum Dewie Yasin Limpo, KPK juga menangkap tangan Anggota Fraksi PDI-P Adriansyah saat pelaksanaan kongres partai berlambang banteng moncong putih di Bali. Selanjutnya, giliran Anggota Fraksi Nasdem Patrice Rio Capella juga ditetapkan sebagai tersangka.

Sebagiaman diketahui, sebelumnya, dalam rapat Badan Legislasi pada (6/10/2015), sejumlah anggota dari enam fraksi di DPR mengusulkan revisi UU KPK masuk dalam program legislasi nasional prioritas 2015.

Dalam draf revisi yang dibagikan di rapat itu, diatur bahwa masa kerja KPK hanya 12 tahun setelah UU diundangkan. Draf itu juga mengatur batasan bahwa KPK hanya bisa menangani kasus dengan kerugian negara minimal Rp 50 miliar.

Kewenangan penyadapan KPK juga harus dilakukan melalui izin pengadilan. Kemudian, KPK diusulkan tak lagi menyelidik dan menyidik perkara korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum.

KPK juga nantinya akan memiliki kewenangan menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3). Terakhir, akan dibentuk juga lembaga pengawas untuk mengawasi kinerja KPK.

Namun, setelah ditentang banyak kalangan, pemerintah dan DPR akhirnya melunak dan bersepakat menunda pembahasan RUU KPK. Kesepakatan ini tercapai setelah Presiden Joko Widodo dan pimpinan DPR bertemu dalam rapat konsultasi di Istana Negara, Selasa (13/10/2015) sore lalu. (kom/ek)

.