DBD Menyerang Warga Kampung Babakan

  foto:Dok

Cileungsi ,Trans Bogor                   

Penyakit Demam Berdarah De­ngue (DBD) kini menjadi ancaman serius bagi warga Kampung Babakan RT 02 RW 03  Desa Limus Nunggal, Kecamatan Cileungsi,  Kabupaten Bogor.  Setidaknya, puluhan warganya sempat terserang penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti ini.

 “Warga kami dari awal Desember 2013 hingga akhir Januari 2014 ini, sudah berjumlah dua puluh orang yang terjangkit demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit.  Sebagian lagi terpaksa hanya dirawat di rumah karena tidak punya biaya. Mereka yang di rumah ini kami rawat dengan obat tradisional angkak,” kata Caskim (49) warga Kampung Babakan, Jumat (31/1).

Menurut Caskim, sebagian warga kini mulai pulih. Bahkan ada yang sudah dapat kembali beraktivitas. Namun mengingat kondisi cuaca yang semakin memburuk, warga masih khawatir jika penyakit DBD akan kembali merebak.

 Hal senada juga diungkapkan Jamal, Ketua RT 02, Kampung Babakan.  Dijelaskan Jamal, letak kampungnya memang berdekatan dengan bekas  lahan galian tanah. Sehingga air hujan yang turun tidak mengalir dan malah menggenang. Kondisi inilah yang diduga menyebabkan mudahnya terjangkit penyakit DBD  di wilayah  yang memiliki  30 Kepala Keluarga (KK) tersebut .

“ Setiap musim  hujan ling­ku­ngan ka­mi selalu dilanda banjir. Kampung kami memang berada di dataran rendah. Belum lagi dekat  bekas galian tanah yang menyebabkan air kotor banyak tergenang disana. Akibatnya, dua puluh orang warga kami terjangkit DBD. Mulai dari orang dewasa, hingga anak-anak bahkan menjadi korbannya,” ungkap Jamal.

Kalah Sama Caleg

Salah satu  warga  yang  terjangkit DBD, Yuniati  (42) mengaku sempat cemas. Karena yang terjangkit DBD ternyata bukan hanya dirinya, melainkan juga seluruh anggota keluarganya.

 “Sudah enam anggota keluarga  terjangkit DBD yang terdiri dari  kedua anak saja, dua cucu, suami dan saya sendiri.  Anak dan cucu dirawat di Rumah Sakit Susmadi .Saya dan suami dirawat di rumah dengan mengonsumsi  obat tradisional  angkak. Kalau kami semua dirawat ke rumah sakit, dari mana biayanya? Bayangkan saja, enam orang sakit semua” ungkap Yuniati.

Para warga di Kampung Babakan, kata Yuniati, sangat mengharapkan bantuan dari pihak Pemerintah Kabupaten, khususnya aparat desa dan kecamatan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tetapi nampaknya, langkah  Pemkab kalah cepat dibandingkan Evy Marlina, caleg dari Partai Golkar untuk wilayah Dapil II. 

“Ibu Evy memberikan bantuan dalam bentuk fogging atau pengasapan lingkungan. Kami sangat berterima kasih kepada beliau, yang setidaknya berusaha mengurangi terjangkitnya DBD di wilayah kami,” ujar Yuniati.

Sementara itu, Evy Marlina mengaku membantu warga karena mendapat laporan dari salah satu kadernya tentang merebaknya wabah DBD di wilayah tersebut.

 “Bantuan penyemprotan atau  fogging ini  adalah murni untuk membantu warga sekitar. Tidak ada niat saya agar dapat dipilih warga. Warga sekarang kan sudah pintar, jadi tidak dapat dibohongi. Mereka tahu pemberian itu tulus apa tidak,” kilah Evy.

Kebobolan

Dilain pihak, Iin, staf Kesra Desa Limus Nunggal  Kecamatan Cileungsi  mengakui jika pihaknya tidak mendapat laporan dari aparat RT sehingga mereka tidak mengetahui jika ada puluhan warga mereka yang terserang DBD.

“Seharusnya jika ada permasa­lahan seperti ini, pihak RT dan RW sigap melaporkan kepada perangkat desa. Sehingga kita akan segera melaporkan kejadian ini ke puskesmas dan pihak Kecamatan Cileungsi” ujar Iin.

Camat Cileungsi, Beben Suhendar juga turut menyesalkan ketidaktahuan aparat desa terhadap kasus wabah DBD yang menyerang Kampung Babakan.

 “Pihak perangkat desa dan pihak puskemas seharusnya jangan selalu menunggu laporan dari bawah. Karena untuk Kecamatan Cileungsi yang terdiri dari dua belas desa jelas rentan terjangkit DBD. Apalagi kondisi cuaca sekarang sedang musim hujan,” sesal Beben.

Beben mengakui, pihaknya lamban menangani kasus ini karena memang tidak mendapatkan laporan dari pihak aparat desa.  Sebab itu dia dengan tegas akan memerintahkan seluruh aparatnya untuk segera memantau kondisi warga.

“Terus terang, kami dari pihak kecamatan merasa kebobolan terhadap kasus ini. Bayangkan, dua puluh orang warga kami kena DBD. Itu kan masuk Kejadian Luar Biasa yang harus segera ditangani.  Saya berterima kasih kepada ibu Evy Marlina yang mengambil inisiatif membantu warga melalui fogging.  Saya akan memerintahkan seluruh aparat desa dan kecamatan untuk segera melakukan pemantauan, agar dapat membawa  warga ke rumah sakit,” tegas Beben.  (wid/ses)

.