Astagfirullah, 12 Jam RS Vania Sandera Jenazah Gakin

©transbogor
SANDERA : Aktivis GMNI 'berorasi' di ruang lobi RS Vania menuding Wadir Gerson yang disebut tidak benurani karena menyandera jenasah gakin selama 12 jam.

Transbogor.co-Hanya karena tidak berkemampuan membayar biaya tagihan rumah sakit hingga Rp35 juta lebih, jasad Abdul Majid yang meninggal saat Minggu (25/10/2015) pagi, pukul 7.00 WIB, disandera pihak Rumah Sakit Vania. Rumah sakit swasta yang berlokasi di Jalan Suryakencana, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur yang diresmikan Walikota Bogor Bima Aria Sugiarto, 1 November 2014 bersikukuh menolak jenasah Abdul Majid (56) dibawa pulang keluarganya. Dalihnya, pihak keluarga, warga tidak mampu yang bertempat tinggal di RT 01/ RW 08, Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, wajib melunasi terlebih dahulu administrasi pasien.

“Biaya perawatan harus dilunasi dulu, baru bisa dipulang. Kalau tidak, tidak ada tawar menawar,” tukas Wakil Direktur Vania, Gerson kepada Ketua RW 08, Dudu, Desa Sukamantri, Tamansari, Kabupaten Bogor yang memediasi pihak keluarga.

Tanpa basa-basi, setelah menyampaikan komentar singkat alasan menahan jenasah, kepada Ketua RW Dudu, Wakil Direktur RS Vania pun kemudian pergi meninggalkan keluarga pasien ke ruang kerjanya.

Setelah 12 jam berlalu, jasad pasien Abdul Majid ditahan RS Vania, pihak keluarga pun makin merasa resah. Bahkan, beberapa keluarga terlihat menangis sesunggukan. Kabar penahaan jenasah pasien gakin oleh RS Vania sempat disebarkan melalui media sosial oleh kerabat keluarga. Selanjutnya, sekitar pukul 17.00 WIB, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Pakuan, Desta dan Felix bersama belasan rekannya mendatangi RS Vania.

Para aktivis itu pun kemudian menemui Gerson dan mendesak agar jenasah gakin dikeluarkan. Mulanya, Wakil Direktur RS Vania itu menolak. Namun, setelah Desta dan Felix berteriak dan menuding pihak rumah sakit tidak berperikemanusiaan dan melanggar aturan Islam, akhirnya Gerson melunak.

“Ini sangat keterlaluan, karena kami dengar keluarga pasien sudah membayar uang muka Rp10 juta dan memberikan jaminan STNK kendaraan milik kerabatnya, masak iya jasad pasien masih mau disandera. Kalau rumah sakit mau cari untung yang wajar, jangan memeras keluarga pasien. Apalagi ini pasien tidak mampu,” teriak Desta di ruang lobi rumah sakit.

Aksi Desta ‘orasi’ di dalam rumah sakit itu pun mengundang perhatian keluarga pasien. Akhirnya, Gerson mewakili rumah sakit mengizinkan jenazah dibawa pulang pada pukul 19.30 WIB.

Sebelumnya, Abdul Majid (56) sempat dirawat di RS Vania selama 4 hari dengan diagnosa mengalami sakit jantung dan paru-paru. Selanjutnya, Minggu (25/10/2015) pagi, pukul 07.00 WIB, Abdul Majid meninggal dunia. Setelah 12 jam disandera pihak RS Vania, akhirnya jenazah korban dibawa pulang dan dikebumikan di dekat kediamannya, pukul 20.00 WIB. (sep/ek) 

.