PMKB : Cabut Izin RS Swasta yang Sandera Jenasah Pasien Gakin!

©transbogor
Felix Martha

Transbogor.co- Maraknya, rumah sakit swasta yang sudah berorientasi layanan kemanusiaan dijadikan ajang bisnis perlu dicegah dengan payung hukum, seperti perwali atau peraturan daerah (perda). Hal itu dikatakan aktivis Persatuan Mahasiswa Kota Bogor (PMKB), Felix Martha.

“Kejadian penyanderaan atas pasien gakin selama 12 jam yang dilakukan Rumah sakit Vania di Jalan Suryakencana, Sukasari semestinya membukakan mata kepala daerah atau DPRD Kota Bogor, bahwa hal ini harus dihentikan,” tukasnya kepada Transbogor, Minggu (25/10/2015).

Felix yang ikut mengadvokasi pasien gakin bersama rekannya Desta, aktivis GMNI mengaku merasa gerah bila penzholiman yang dilakukan rumah sakit swasta itu dibiarkan.

“Bicara bernegara, pemerintah atau pemerintah daerah harus hadir memberikan solusi kepada rakyatnya, termasuk warga tidak mampu untuk mendapat pelayanan kesehatan tanpa dibdea-bedakan,” tuturnya.

Jadi, sudah jadi kebutuhan mendesak, perlu ada payung hukum daerah agar ulah rumah sakit mengkomersialisasi layanan sehingga membebani pasien gakin tidak lagi terjadi di kedepan hari.

“Penyanderaan jenasah pasien gakin oleh RS Vania di Sukasari jelas merupakan bentuk penisataan HAM. Apalagi jenasah disandera sampai 12 jam. Ini sangat tidak manusiawi. Menurut saya, pemkot perlu mencabut izin rumah sakit swasta yang menciderai nurani pasien gakin,” tuturnya.

Pada bagian lain, Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor, Ujang Sugandi mengatakan, aksi penyanderaan jenasah pasien gakin terbilang melanggar azas kelaziman.

“Kami tahu rumah sakit swasta punya aturan main sendiri soal adminsitrasi. Tapi, setidaknya, selain beorientasi untung, perlu juga mengdepankan nilai kemanusiaan. Ini akan jadi PR di Komisi D, juga Walikota Bogor. Saya pikir,  memang perlu dibuat aturan agar tidak ada rumah sakit swasta yang nakal,” tandasnya melalui telepon.     

Sebagai informasi, hanya karena tidak berkemampuan membayar biaya tagihan rumah sakit hingga Rp35 juta lebih, jasad Abdul Majid yang meninggal saat Minggu (25/10/2015) pagi, disandera selama 12 jam oleh pihak RS Vania. Rumah sakit swasta yang berlokasi di Jalan Suryakencana, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur yang diresmikan Walikota Bogor Bima Aria Sugiarto, 1 November 2014 lalu, bersikukuh menolak jenasah Abdul Majid (56) dibawa pulang keluarganya. Dalihnya, pihak keluarga, warga tidak mampu yang bertempat tinggal di RT 01/ RW 08, Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, wajib melunasi terlebih dahulu administrasi pasien. (sep/ek)

.