Dibilang Tidak Tegas, Presiden Jokowi Buka Suara

©net
Joko Widodo

Transbogor.co- Setelah disasar kritik adanya anggapan tidak ada perubahan selama setahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, akhirnya Presiden RI buka suara di hadapan seribuan WNI saat berdialog di KBRI di Washington, baru-baru ini.  

Presiden Jokowi tidak mempersoalkan tudingan dirinya tidak berbuat apa-apa. Namun, dirinya membantah sebutan tak tegas. Kata mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, sejumlah langkah tegas telah dilakukan. Diantaranya seperti penenggelaman kapal illegal fishing dan hukuman mati bandar narkoba.

"Ada yang bilang Jokowi enggak tegas, sudah 113 kapal ditenggelamkan. Ada gambarnya. Orang lihat presiden kurus, boleh saja silakan. Menterinya juga nekat," ujar Jokowi

Hadir dalam acara ini sekitar 1.250 WNI. Menteri Kabinet Kerja yang mendampingi di antaranya Menlu Retno Marsudi, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Kepala Staf Presiden Teten Masduki dan Kepala BKPM Franky Sibarani.

"Tapi Bu Susi pertama juga takut, saya perintahkan, ngga ditenggalamkan juga, bu tenggelamkan, seminggu ngga juga, dua kali, baru tiga kali ditenggelamkan,"tuturnya.

Jokowi mengaku selalu memberikan motivasi agar menterinya berani mengambil keputusan.

"Saya dibackup ya pak kata Bu Susi, itu bekingnya gede, Bu Menteri beking mu Presiden, baru ditenggelamkan," imbuhnya.

Menyoal masalah narkoba, Jokowi juga mendengar dirinya disebut tak tegas. Padahal data yang diterima Jokowi ada 64 terpidana yang sudah divonis mati.

"Kalau hukum positif kita memutuskan hukiman mati, ada 64 . Kalau kita ngga tegas barangnya masuk terus. Kita ngga tegas melakukan. Setuju ngga dihukum mati? " para WNI serempak menjawab setuju.

Jokowi juga menyinggung soal pembubaran petral. Petral yang berdiri puluhan tahun akhirnya bisa dibubarkan.

"Pembekuan petral, berapa puluh tahun. Pak menteri berdiri (Menteri ESDM Sudirman Said). Awalnya bisik-bisik juga, bapak serius, ya serius, sampai kantor menterinya ditembak," tukasnya.

Terkait penekanan impor. Jokowi mengungkapkan, perekonomian Indonesia selama ini ditopang dari hal-hal konsumtif, termasuk ketergantungan pada impor mulai dari beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Oleh karena itu, kata Jokowi, pemerintah berusaha menekan impor tersebut meski mendapatkan tekanan.

"Tidak ada rasa takut dalam diri saya," ujar dia. 

Menurut Jokowi, pola konsumtif harus dialihkan ke investasi, pembangunan infrastruktur, dan menjaga kedaulatan pangan. Selain menekan impor, hal yang dilakukan adalah mengalihkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke sektor produktif.

"Setiap memutuskan apapun ada tantangannya. Tapi, jalan yang benar yang harus kita lalui," ujar Presiden. (det/kom/ek) 

.