Survei CSIS : Jika Pilpres Digelar Hari ini, Jokowi Masih Unggul

©eko-transbogor
ilustrasi

Transbogor.co- Lembaga Survei Centre fot Strategic and International Studies (CSIS) merilis hasil survei tingkat kepuasan publik pada kinerja pemerintah Presiden Joko Widodo - Jusuf Kalla selama 1 tahun menjabat. Hasilnya, 50.6% responden mengaku puas kinerja pemerintahan.

"Sebanyak 50,6% publik merasa puas pada hasil kinerja pemerintahan Jokowi-JK," jelas peneliti CSIS Arya Fernandes dalam jumpa pers hasil survei di hotel Century Park, Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Sementara itu, sebanyak 48,2 persen publik menyatakan tidak puas. Survei ini dilakukan secara acak pada 1.183 orang secara proporsional di 34 provinsi. Penarikan sample secara multi-stage random sampling dengan margin error sekitar 2,85 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dilakukan selama 14 hingga 21 Oktober 2015 melalui wawancara tatap muka.

Kepuasan publik paling tinggi ada pada bidang maritim yakni 59,4 persen dan hukum 51,1 persen di bidang hukum. Bidang yang paling dikecewakan masyarakat ada pada bidang ekonomi 69,1 persen dan bidang politik 53,8 persen.

"Meski sudah ada paket kebijakan yang diumumkan, publik masih menunggu implementasi," sambungnya.

Jika pemilu presiden dilakukan sekarang, survei yang dilakukan CSIS menampatkan Joko Widodo masih menempati posisi diatas Prabowo Subianto. Tokoh lain yang memiliki elektabilitas tertinggi sebagai calon presiden adalah Basuki Tjahaja Purnama dan Ridwan Kamil.

Hasil survei itu menunjukkan bahwa dua tokoh yang bersaing dalam Pemilu Presiden 2014, yakni Jokowi dan Prabowo, kembali menduduki urutan persaingan teratas.

Jokowi mendapatkan dukungan dari 36,1 persen responden. Adapun Prabowo mendapat dukungan dari 28 persen responden. Peneliti CSIS Arya Fernandez mengatakan, masyarakat masih terpolarisasi oleh hasil Pemilu Presiden 2014. Namun, kini pilihan publik tidak hanya terbelah oleh sosok Jokowi dan Prabowo.

Sebagian suara pendukung mereka mulai tersebar ke beberapa tokoh lain, termasuk kepada Basuki. Gubernur DKI Jakarta itu menempati urutan ketiga dengan tingkat elektabilitas 4,9 persen.

"Ahok (Basuki) populer dan kebijakannya mendapatkan apresiasi publik. Figur politik yang berbeda, karena dia mau bertarung keras dengan DPRD," kata Arya dalam jumpa pers di Jakarta.

Urutan keempat ditempati oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan 4,8 persen. Namun, SBY tidak bisa lagi maju sebagai capres karena sudah menjadi presiden selama dua periode.

Urutan kelima ditempati Wali Kota Bandung Ridwan Kamil atau Kang Emil dengan 3,6 persen. Tokoh-tokoh lain tidak mendapatkan suara signifikan dan totalnya sebanyak 12,8 persen. Adapun responden yang tidak menjawab atau belum menentukan pilihan sebanyak 9,7 persen.

Survei ini dilakukan pada 14-21 Oktober 2015 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah responden sebanyak 1183 orang yang tersebar secara proporsional di 34 provinsi di Indonesia. Survei menggunakan multi-stage random sampling, margin of error sebesar +/- 2,85 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (det/kom/ek)

.