Jenasah Orangtua Ditahan 12 Jam, Kami Dizholimi RS Vania

©transbogor
RUMAH SAKIT : Inilah penampakan Rumah Sakit Vania di Jalan Suryakencana, Sukasari, Kota Bogor

Transbogor.co- Pelayanan Rumah Sakit (RS) Vania yang berlokasi di Jalan Suryakencana, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor dikeluhkan Anisa Rahmawati (22), warga RT 01/ RW 08, Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Super mahal dan super tidak berprikemanusiaan, demikian sebut putri mendiang Abdul Majid yang jenasahnya sempat disandera 12 jam lantaran belum melunasi adminsitrasi, Minggu (25/10/2015) lalu.

“Ini pelajaran mahal buat kami. Orangtua saya, sampai ditahan berjam-jam hanya karena belum membayar uang administrasi rumah sakit,” tuturnya sembari menangis saat ditemui Transbogor di kediamannya.

Anisa menuturkan, selama empat hari orangtuanya dirawat di rumah sakit swasta yang baru beroperasi beberapa bulan tersebut hingga akhirnya meninggal, keluarganya sudah dibebankan tagihan Rp49 juta.

“Sewaktu meninggal, hari Minggu lalu, pihak rumah sakit minta agar disiapkan uang pembayaran secara tunai. Setelah kita kasih Rp10 juta, jenasah orangtua masih belum boleh dikeluarkan sebelum dilunasi,” ucapnya.

Merasa kalut bercampur panik, pada hari itu juga, keluarganya terpaksa mencari utangan dengan menggadaikan sertifikat rumah. Akhirnya, dibayar Rp10 juta lagi beserta jaminan kendaraan roda empat dan STNK. Tapi, lagi-lagi rumah sakit itu menolak, dan minta dilunasi.

“Keluarga pun makin terpukul karena kami bukan keluarga berada. Akhirnya, kami minta bantu om memberi pinjaman, dan dicarikan Rp15 juta. Tapi, rumah sakit masih juga menolak dan minta dibayar lunas. Akhirnya setelah ada ribut-ribut dari mahasiswa memprotes pihak rumah sakit, baru kami pihak membawa pulang jasad orangtua, Abdul Majid. Itu pun setelah malam hari,” tukasnya.

Anisa menyampaikan, hingga saat ini, pihaknya masih berutang Rp15 juta kepada pihak rumah sakit. “Kami saudah tidak tahu lagi mau gimana kalau rumah sakit menagih. Karena, kami sudah habis-habisan cari utangan,” lanjutnya.

Masih menurut putri tunggal mendiang Abdul Majid, setelah sekitar 12 jam disandera rumah sakit tidak boleh pulang, akhirnya sekitar pukul 20.00 WIB, jenasah baru bisa dibawa pulang.

“Sesampai di rumah hanya setengah jam. Itu pun langsung dimandikan, dan disolatkan. Selanjutnya, langsung dimakamkan malam itu juga di pemakaman Dreded, sekitar pukul 21.00 WIB. Yang kami sesalkan, kok ada rumah sakit yang tidak berperikemanusaian menghalangi keluarga kami memberi penghormatan terakhir kepada orangtua,” kata Anisa.

Jika tidak terjadi perang mulut antara aktivis mahasiswa GMNI dengan pihak rumah sakit, kemungkinan penahanan jenasah akan berlanjut.

“Jika masih ditahan jenasah orangtua saya, sama artinya menghalangi pemakaman orangtua kami. Dan, itu sangat tidak manusiawi,”tuntasnya. (sep/ek)

.