Cabut Izin RS Vania!

©transbogor
RUMAH SAKIT : Rumah Sakit Vania di Jalan Suryakencana, Sukasari, Kecmatan Bogor Timr, Kota Bogor.

Transbogor.co- Desakan pencabutan izin Rumah Sakit (RS) Vania di Jalan Suryakencana, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, kian deras disampaikan sejumlah elemen mahasiswa dan kepemudaan. Setelah sebelumnya disuarakan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), disusul Persatuan Mahasiswa Kota Bogor (PMKB). Terkini, Banteng Muda Indonesia (BMI) juga menyampaikan tuntutan senada.

“Nilai kemanusiaan sudah dicoreng rumah sakit swasta saat jenasah Abdul Majid ditahan hingga 12 jam. Apa orang tidak mampu tidak berhak mendapat layanan yang baik di Kota Bogor ini?,” tukas Rahmat Heryana, salah seorang pengurus BMI kepada Transbogor, Rabu (28/10/2015).

Dia mempertanyakan keberadaan kepala daerah juga DPRD yang seharusnya hadir memberikan solusi dan sanksi kepada rumah sakit swasta yang berorientasi cari untung besar.

“Kemana Walikota Bogor? Jangan cuma bisa sweeping THM (red.Tempat Hiburan Malam) saja. Tapi, layanan publik seperti rumah sakit yang tidak berpihak pada warga tidak mampu juga harus disidak. Kalau perlu cabut izinnya. Daripada nanti para pendemo yang mencabut izinnya. Komisi D, DPRD juga harus memperlihatkan tanggungjawab sama karena dia wakil rakyat,” tandas Rahmat.

Senada disampaikan Taruna Merah Putih (TMP) Shane Hasibuan. Dia menekankan, tidak ada kompromi untuk rumah sakit yang melanggar nilai kemanusian.

“Cuma satu kalimat untuk rumah sakit yang menahan jenasah pasien gakin, cabut izinnya!,” tutur Shane.

Mantan Ketua Front Aksim Mahasiswa (FAM) IPB Ini mendsak agar Walikota dan DPRD Kota Bogor segera turun tangan menindak RS Vania.

“Jika tidak, maka kami siapkan massa untuk mendemo RS Vania,” tuntasnya.

Sebagai informasi, hanya karena tidak berkemampuan membayar biaya tagihan rumah sakit hingga Rp49 juta, jasad Abdul Majid yang meninggal saat Minggu (25/10/2015) pagi, disandera selama 12 jam oleh pihak RS Vania. Rumah sakit swasta yang diresmikan Walikota Bogor Bima Aria Sugiarto, 1 November 2014 lalu, itu bersikukuh menolak jenasah Abdul Majid (56) dibawa pulang keluarganya meski sudah diberikan Rp10 juta oleh anak mendiang Abdul Majid sebagai uang muka. Dalihnya, pihak keluarga, warga tidak mampu yang bertempat tinggal di RT 01/ RW 08, Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, wajib melunasi terlebih dahulu administrasi pasien.

Namun, setelah belasan GMNI yang dipimpin Desta Lesmana menyampaikan protes, akhirnya Wakil Direktur RS Vania memberikan izin jenasah dibawa pulang pada pukul 19.30 WIB, pada hari yang sama. (sep/ek)

.