Satpol PP Perlu Campur Tangan Cegah Tawuran

©eko-transbogor
ilustrasi

Transbogor.co- Pembina SOS Children’s Village, Robert Makapuan menilai aksi tawuran pelajar dilingkungan Kota Bogor belakangan ini sudah sangat mengkhawatirkan. Sebab, hampir setiap pekan terjadi tawuran, dan kerap meminta korban nyawa.       

Dia mendesak Pemkot Bogor perlu mengambil langkah pencegahan. Sebab, bila terus menerus dilakukan pembiaran tanpa antisipasi, bukan tidak mungkin tawuran pelajar jadi budaya dan jadi ajang balas dendam yang tak terhentikan.

“Sejauh ini sudah banyak korban, mulai dari luka berat hingga nyawa melayang. Hal ini tidak boleh didiamkan. Kami belum melihat upaya serius yang dilakukan Pemkot Bogor melalui Disdik Kota Bogor,” tutur Robet di kantor SOS Cildren’s Village, Jalan Kapten Yusuf, Kelurahan Cikaret, Kota Bogor, kepada Transbogor, Senin (2/11/2015).

Sebagai tindak pencegahan, tuturnya, selain menjadi peran orangtua dan sekolah, Pemkot Bogor perlu melibatkan campur tangan Satpol PP untuk melakukan pencegahan.

“Tugas Satpol PP itu selain sebagai penegak perda kan ikut memastikan ketertiban umum dan ketentraman kota sebagaimana diamanatkan PP Nomor 6 tahun 2010 tentang Satpol PP. Jadi, Satpol PP juga perlu diberdayakan melakukan antisipasi tawuran melalui kendaraan patroli. Jangan hanya bisa sebatas mengusir PKL atau menghalau aksi demo saja, seperti yang selama ini dilakukan,” tandasnya.

Sementara, Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor, Ujang Sugandi tidak menampik aksi tawuran pelajar akhir-akhir kian meresahkan. Menurutnya, di Kota Bogor terdapat sepuluh lokasi rawan tawuran pelajar. Di Kota Bogor, sebut Ujang, terdapat sepuluh lokasi yang menjadi tempat tawuran pelajar. Lokasi tersebut yakni Jalan Raya Pajajaran, Warung Jambu, underpass Soleh Iskandar, Empang, Sukasari, perempatan Yasmin, Kedunghalang, dan Tajur.

"Terkait perlunya melibatkan Satpol PP untuk melakukan pencegahan, hal itu merupakan usulan yang baik. Selama ini, peran itu sudah diemban petugas kepolisian dengan melakukan patroli memantau dan menjaga lokasi-lokasi yang dianggap rawan. Tapi, jika melibatkan Satpol PP saya juga berkeyakinan akan lebih optimal,” ucapnya.          

Kata Ketua Komisi D, jam bubar sekolah adalah waktu yang paling rawan terjadi tawuran di Kota Bogor.

"Saat ini tawuran pelajar pun kerap terjadi pada malam hari. Bahkan, mereka kerap janjian untuk bertemu dan melakukan tawuran. Siapa saja yang harus terlibat menimalisir tawuran, tentu peran orangtua dan sekolah. Tentunya, pihak sekolah harus lebih ketat melakukan pengawasan terhadap siswanya,”tuntasnya.

Dari informasi yang dihimpun Transbogor, ada beberapa sekolah di Kota Bogor yang terindikasi kerap terlibat dalam tawuran, di antaranya SMK PGRI 2, SMK Tridarma, SMK Yatek, SMK YKTB, dan SMK YZA Tajur. Sementara, di Kabupaten Bogor terdapat empat lokasi rawan tawuran, yakni Ciomas, Citeureup, Sukaraja, dan Cibinong. (sep/ek) 

.