Warga Cipayung Datar Tolak Tawaran Jokowi

   Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) bersama Bupati Bogor Rachmat Yasin (kanan) saat meninjau lokasi yang direncanakan akan dibangun waduk raksasa, awal Februari 2014 lalu. foto: Trans Bogor/deny herdiana

Bogor, Trans Bogor – Warga Desa Cipayung Datar, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor keberatan dengan tawaran Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) soal ganti rugi lahan. Keberatan tersebut akan menggangu proses pembebasan lahan untuk pembangunan waduk yang seharusnya sudah mulai jalan tahun ini.

“Jelas keberatan kalau ganti rugi tanah warga di bawah Rp 1 juta per meter, apalagi sampai di kisaran NJOP 300 ribuan. Ini gak mungkin, perlu mediasi dan komunikasi lagi,” kata Kepala Desa Cipayung Datar Cacu Budiawan Senin pagi (24/2/2014).

Sebelumnya Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) menilai harga yang diminta warga untuk pembebasan lahan Waduk Ciawi sebesar Rp 15 juta adalah tak logis.

Jokowi mengatakan penetapan harga selama ini sudah sesuai dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

"Itu (Rp 15 juta per meter) logis tidak? terus logisnya berapa. Kita di sana mengacu pada NJOP," ujar Jokowi di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (21/2/2014) lalu.

Jokowi mengatakan bahwa jika kenaikan harga yang diminta di kisaran 10-20 persen, masih bisa dipertimbangkan.
"Misalnya taruhlah lah harganya Rp 300 ribu ini jadi 15 juta gimana?" kata Jokowi.

Meski begitu, Jokowi masih belum mengetahui harga pasti yang disesuaikan dengan NJOP. Dia yakin hal ini bisa teratasi dengan pendekatan antara Bupati Bogor dan warganya.

"Paling pas (dibangun waduk) hanya di situ. Sudah melalui kajian," kata Jokowi.

Menurut Cacu, masyarakat yang terkena pembebasan waduk menginginkan relokasi yang tidak jauh dari lokasi semula. Sebab, kultur atau mata pencaharian mereka selama ini berada di sekitar wilayah tersebut.

“Kalau di pindah jauh, jelas warga kami keberatan. Lagi pula sekarang sudah tidak ada lagi tanah yang harganya per meter Rp 300 ribu. Di atas gunung juga sudah mahal. Jadi, yang tidak logis itu Jokowi. Seharusnya dia bisa lebih realistis soal ini,” kata Cacu.

(adh/dtc)

 

.