Duuuh, Citeureup Ramai Industri , Kampung Coblong Malah Terkucilkan

  ©transbogor/rifan
Kampung Coblong, Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup seolah menjadi wilayah terisolir ditengah hingar bingar industri

Transbogor.co - Siapa sangka, beberapa tahun yang lalu dibalik hinggar bingar Citeureup sebagai kawasan industri yang terus berkembang, terdapat 87 kepala keluarga (KK) hidup jauh diluar perkiraan. Tidak adanya listrik serta letak pemukimannya yang berada di antara bukit-bukit membuat kampung ini layaknya sebuah wilayah terisolir.

Kampung Coblong, namanya. Kampung yang berada dalam teritori Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup memang seperti tenggelam dibawah hirup pikuk kehidupan layaknya kawasan lain di bagian Timur Kabupaten Bogor.


Tak mudah untuk menjangkau wilayah ini, medan yang berat dan kontur tanah berbatu serta terjal menjadi santapan wajib untuk sampai ke kawasan tersebut. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kantor Desa Hambalang dengan melahap jarak sekitar tujuh kilometer.


Ditemani mantan Kepala Seksi (Kasi) Ekonomi Kecamatan Citeureup, Gerry M Suwaryo dengan menggunakan kendaraan Jeep jenis Jimni Sera 4x4, kami mencoba untuk menggali lebih jauh tentang kehidupan warga di Kampung Coblong.


“Untuk menjangkau Kampung Coblong memang harus menggunakan Jeep karena jalannya memang terjal. Kalau hujan, ya siap-siap saja jalan kaki dan mobil kita tinggal.” Ujarnya.


Sesampainya disana, kami bertemu dengan Zainudin (70) sesepuh Kampung Coblong. Ia menceritakan, penduduk yang menghuni wilayahnya merupakam eks pekerja Perkebunan dan Kampung Coblong sendiri pada awalnya merupakan Jege/Bengkok (tanah desa).


“Semuanya merupakan para perantau dan bekerja di perkebunan. Saya sendiri asli Cileungsi dan datang ke kampung ini tahun 1963,” ceritanya.


Lebih lanjut, Zainudin mengatakan pada awalnya hanya ada enam orang warga yang tinggal di kampung tersebut, diantaranya Tahim dan seorang pria yang kerap disapa mandor Zaiman. “Pekerjanya sendiri hanya delapan orang,” kenangnya.


Tahun 1996, Perkebunan tersebut tidak lagi berjalan. Bahkan kondisinya makin tidak menguntungkan bagi para pekerja karena tidak ada kepastian mengenai masa depan mereka selama dua tahun walau kewajiban mereka tetap terpenuhi. Namun para pekerjanya memilih tetap untuk tinggal di wilayah tersebut.


“Kami bingung mau kemana, kembali ke kampung tidak mungkin. Akhirnya kami diberi izin tinggal oleh Letnan Rafei, Kepala Perkebunan ketika itu yang kemudian diperkuat oleh Pak Yones (Kepala Tamanan),” beber Zainudin.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama hidup dibawah ketidak pastian tersebut, mereka akhirnya menggarap lahan-lahan yang ada di sekitarnya meski mereka tahu hal tersebut tidak ada dalam perizinan yang keluarkan pihak perkebunan.


Setelah resmi status tanah tersebut dikelola oleh sebuah yayasan pada tahun 1998, para pekerja tersebut, menurut Zainudin, ada yang kembali ke kampung asalnya dan ada yang tetap setia tinggal di Kampung tersebut.
Bagi mereka yang bertahan, diperbolehkan untuk mengelola lahan-lahan yang ada di sekitarnya. Hal ini membuat mereka memilih menjadi perajin aci singkong yang dijual ke wilayah Ciluar, Sukaraja. “Lumayan, sehari jika panennya bagus kami bisa menghasilkan 1,5 sampai 2 ton aci,” jelasnya.


Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, para warga Kampung Coblong harus rela pergi cukup jauh untuk menjangkau wilayah tetangganya, Kampung Tajur. Satu minggu sekali mereka pergi ke kampung tersebut untuk membeli segala kebutuhan hidupnya.


Sementara itu, sekitar 80 anak Kampung Coblong harus menempuh jarak 2 hingga 3 kilometer untuk bersekolah setiap harinya dengan berjalan kaki menuju Kampung Parung Banteng, Desa Tajur.
Kondisinya semakin miris dengan belum adanya penerangan di wilayah tersebut. Hal ini membuat kampung tersebut benar-benar terisolir. “Kami berharap dipindah ke tempat yang lebih layak dan mudah untuk menjangkau wilayah lainnya. Tidak tersendiri seperti ini. Tapi kami juga punya impian, ingin agar Bupati Bogor dapat datang ke kampung kami,” harap Zainudin


Akhirnya, impian itu terwujud juga setelah Pemkab Bogor mengabulkan relokasi bagi warga Kampung Coblong ke lokasi yang tidak terpinggirkan lagi pada tahun 2014 lalu.Rifan

 

.