Pemuda Indonesia Terbebas Minuman Keras 2025

  Ketua Gerakan Nasional Antimiras Fahira Idris memberikan keterangan pers saat peluncuran bukunya yang berjudul "Say No, Thanks" di Jakarta, Senin (3/3). Buku setebal 200 halaman tersebut berisi tentang kampanye antimiras termasuk sejarah miras serta dampaknya terhadap kaum muda. foto: antara

Jakarta, Trans Bogor - Gerakan Nasional Antimiras (Genam) menargetkan generasi muda Indonesia akan terbebas dari ancaman serta pengaruh buruk minuman keras pada 2025.

"Kami di Genam memiliki tujuan agar pada 2025 Indonesia, khususnya generasi mudanya bisa terbebas dari pengaruh buruk minuman keras," kata Ketua Genam Fahira Idris di sela peluncuran bukunya yang bertajuk "Say: No, Thanks" di Jakarta, Senin (3/3/2014).

Salah satu langkahnya, lanjut Fahira, dengan mendorong terciptanya regulasi yang jelas tentang ketentuan penjualan miras, khususnya pembatasan daya jangkau kepada para remaja.

"Dari 538 kabupaten dan kota yang ada, baru sekira 20-an yang memiliki regulasi khusus untuk itu," katanya.
Menurut Fahira, Genam memiliki misi untuk menciptakan lahirnya pejuang-pejuang antimiras yang akan menghalau kehadiran minuman keras diantara generasi muda di lingkungannya sendiri dan sekitarnya.

"Bagaimana caranya agar masyarakat dapat terdorong melakukan penolakan kehadiran minuman keras di wilayahnya masing-masing, itu yang kami upayakan," katanya.

Saat ini Genam memiliki sejumlah cabang di beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Bandung, Palembang, Malang, Bekasi, Tangerang Selatan, Depok dan Madiun.

Fahira tetap menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat luas untuk tercapainya tujuan menjauhkan bahaya minuman keras dari generasi muda.

Genam bahkan membina terbentuknya sebanyak 17 kampung antimiras di seluruh Indonesia, yang diantaranya tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Sleman, Malang, Madiun dan Palembang.

Aktivitas Genam mengkampanyekan antimiras juga terhimpun di dalam buku "Say: No Thanks" karya Fahira yang baru saja diluncurkan.

Fahira dalam penyusunan buku tersebut dibantu dua orang penulis pembantu yaitu Sofie Beatrix dan Tamam Jauhar.
Sofie merupakan penulis pembantu profesional yang mendirikan penyedia jasa penulis pembantu, Asamediamu, sementara Tamam adalah seorang dokter yang dinilai Fahira sangat membantu untuk menuangkan narasi dengan argumen sudut pandang dunia medis.

Selain menyajikan sudut pandang medis, buku itu sengaja dihiasi dengan ilustrasi kartun yang dihadirkan untuk menarik minat baca kalangan muda termasuk hingga ke usia siswa-siswi sekolah menengah pertama (SMP).

Buku karya perempuan yang juga calon anggota legislatif DPD RI Daerah Pemilihan DKI Jakarta itu, menampilkan 13 karya dan gagasan para pegiat blog atau blogger muda terkait kampanye antimiras.

Sebanyak 13 karya dan gagasan para blogger di dalam buku itu diambil dari lomba yang diadakan Genam pada 10 April hingga 1 Juli 2013.

(adh/ant)

 

.