Proyek Bocimi Terancam Molor, Pemilik Lahan Jual Mahal

©transbogor.co

Transbogor.co - Megaproyek Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) masih saja terkendala berbagai persoalan, salah satunya yakni pembebasan lahan atau rumah warga yang masih terkendala soal harga.

Seperti di Kampung Citugu, Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong misalnya, salah seorang pemilik rumah hingga kini masih mempertahankan tempat tinggalnya karena alasan harga yang ditawarkan Tim Pembebasan Tanah (TPT) tidak sesuai dengan harapannya.

"Pokoknya saya akan tetap bertahan dan tidak mau menjual rumah ini sebelum harganya cocok. Karena kalaupun rumah saya dibayar, saya tidak akan bisa membangunnya kembali dengan uang ganti untung yang tidak sesuai," ujar Atin, pemilik rumah.

Terkait hal ini, Basrowi, Camat Cigombong mengaku sudah beberapa kali menemui pemilik rumah agar kembali melakukan mediasi dengan pihak terkait untuk membahas harga bidang tanah atau rumah miliknya, agar tidak menghambat proses pembangunan tol seksi pertama sepanjang 13,5 kilometer tersebut (Ciawi-Cigombong).

"Kami dan pemerintah desa sudah menemui pemilik rumah agar tidak terus bertahan dan mempertimbangkan penyesuaian harga yabg ditawarkan tim pembebasan lahan. Namun hingga kini pemilik masih saja bertahan," jelasnya.

Alasannya, lanjut dia, kompensasi atau pembayaran ganti untung lahan atau rumah yang bakal diterima tidak akan mencukupi untuk membangun kembali rumah yang baru.

"Sebetulnya itu kan rumah keluarga, kalau anggota keluarga yang lain sih sudah setuju, hanya satu anggota keluarga saja yang bertahan," paparnya.

Basrowi menjelaskan, jika sampai musyawarah berikutnya tidak ada kesepakatan harga antara TPT dan pemilik rumah, maka kemungkinan besar pembayaran dilakukan di persidangan (konsinyasi).

Selain di Tugu Jaya, persoalan serupa juga terjadi di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong. Puluhan pemilik lahan hingga kini masih bertahan dengan alasan penawaran harga dari pemerintah tidak sesuai harapan mereka. (ar/er)

 

.