Kampung Budaya Sindang Barang Objek Wisata Bogor

©

Transbogor.co - Seren taun Kampung Budaya Sindang Barang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang merupakan acara rutin tahunan kembali digelar. Rencananya budaya adat sunda ini bakal dihelat selama dua hari, Sabtu dan Minggu, akhir pekan ini.

Panitia acara, Rendy Mulyadi mengatakan, acara ini digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kampung Sindang Barang atas hasil panen padi dan hasil bumi yang mereka nikmati.

Acara ini akan diiikuti oleh warga kecamatan Tamansari, utusan kampung adat, utusan daerah Jawa Barat dan Banten serta diisi oleh pertunjukan kesenian Sunda.

"Acara Seren Taun Kampung Budaya Sindang Barang awalnya dimotori oleh para budayawan dan pemerhati sejarah Sunda Bogor juga para peneliti budaya. Merekalah yang menggagas dan mengorganisir acara ini," kata Rendy kepada Transbogor.

Pria gempal yang juga dikenal dikalangan aktivis sebagai Ketua Daya Mahasiswa Sunda (Damas) ini menceritakan, pada  Seren Taun keempat barulah masyarakat setempat yang mengorganisir kepanitiaan.

"Acaranya berupa Sunatan Massal, yaitu upacara sunat bagi anak-anak di kampung Sindang Barang, Sedekah Kue di mana penduduk desa membuat kue, mengumpulkannya lalu membagi-bagikannya, Ngarak Munding dan Sedekah daging, pertunjukan seni seperti tari-tarian, pencak silat dan lainnya," papar Rendy.

Ciri khas dari acara Seren Taun, kata Rendy, adalah arak-arakan orang yang membawa Rengkong, yaitu membawa padi dengan menggunakan pikulan, juga Dongdang yaitu pikulan yang berisi hiasan buah-buahan yang diarak dimulai dari rumah besar yang jauhnya sekitar satu km menuju kampung budaya Sindang Barang.

"Acara Seren Taun Kampung Budaya Sindang Barang sebenarnya telah dilakukan sejak zaman Kerajaan Pajajaran. Kampung ini merupakan tempat berdirinya Kerajaan Pajajaran dengan ditemukannya lebih kurang 93 titik sebaran situs purbakala, 33 buah di antaranya berupa bukit berundak peninggalan Kerajaan Pajajaran sebagai sarana beribadah agama Sunda pada jaman itu," jelasnya.

Pada masa pasca kerajaan Pajajaran, lanjut Rendy lagi, acara ini diaktifkan kembali oleh Entong Sumawijaya, Kepala Desa Kampung Sindang Barang.

Namun setelah beliau wafat pada tahun 1971 acara tahunan ini lenyap tidak bergaung kembali. Setelah 35 tahun kemudian, cucu Pak Entong, yaitu Ahmad Mikani Sumawijaya atau biasa dipanggil Bapak Maki dengan dibantu para tokoh Sunda lainnya serta para peneliti budaya, membangkitkan kembali budaya Sunda ini dengan harapan dapat mengenalkan kembali budaya Sunda pada para generasi muda Sunda yang mulai menghilang digerus zaman.

Acara ini juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan Kabupaten Bogor serta masyarakat Kampung Sindang Barang sendiri dengan banyaknya pengunjung yang datang baik dari dalam kota maupun mancanegara.

"Acara ini bisa menjadi event untuk memperkenalkan budaya Sunda karena diselenggarakan di tempat dengan replica rumah adat Sunda, Leuit atau lumbung padi orang Sunda, lengkap dengan sawah yang membentang hijau dengan kontur tanah yang berupa sengkedan," katany. (Ahm/Rifan).

 

.