Bogor Belum Aman Terhadap Ancaman Longsor

  Dua warga di Kampung Ampera, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan mengemasi sisa-sisa barang pasca tanah longsor yang menimbung rumah warga, Minggu (2/3) lalu. foto : antara

Bogor, Trans Bogor - Meskipun kontur tanahnya berbukit-bukit, sekilas permukiman padat di kawasan Kampung Ampera, Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, tampak aman karena tebing-tebingnya sudah ditahan oleh turap dan fondasi batu kali.

Namun, peristiwa tewasnya empat orang sekeluarga yang rumahnya tertimpa longsor tanah bercampur batu fondasi pada hari Minggu (2/3) lalu, menunjukkan bahwa ancaman bahaya selalu ada di kawasan permukiman seperti itu.

Kasus longsor di kawasan padat penduduk di Kota Bogor terbilang sering terjadi dan telah merenggut puluhan nyawa. Pada tahun 2014 saja, tercatat lebih dari 40 peristiwa tanah longsor terjadi di berbagai lokasi di Kota Bogor, dalam skala kecil hingga besar.

Kasus yang terjadi di Kampung Ampera RT 04/03 Kelurahan Empang, Bogor Selatan, terjadi saat hujan deras minggu malam.Empat orang, yakni Hermansyah (30) beserta istrinya, Supiyah (27), dan kedua anakanya bernama Ihsan (8) dan Lutfi (5) tewas tertimbun di dalam rumahnya.

Sebuah tebing setinggi 15 meter yang sudah ditutup fondasi batu kali roboh dan menimpa sebagian rumah petakan di bawahnya.

"Saya tidak mengira tebing itu bisa runtuh. Saya kira sudah kuat," kata Usman yang mengontrak rumah nomor 13 D di sebelah rumah Hermansyah.

Beruntung longsor tidak sampai menerjang seluruh rumah kontrakan deret itu, hanya rumah Hermansyah di sebelahnya yang tertimpa karena paling dekat dengan tebing yang runtuh.

"Akan tetapi, saya sekarang trauma, anak-istri saya juga takut ada longsor lagi," kata Usman yang merencanakan segera pindah dari rumah kontrakan yang telah tiga tahun disewanya itu.

Di kampung Ampera itu sendiri berdiri rumah-rumah permanen yang rapat satu sama lain. Ada rumah biasa, ada juga rumah-rumah petakan untuk dikontrakkan.

Sebagian besar rumah di kawasan tersebut tidak punya halaman atau ruang terbuka hijau. Setiap sudut lahan dimanfaatkan untuk bangunan.

Lokasinya yang dekat dengan pusat Kota Bogor, menjadikan bisnis kontrakan rumah tumbuh subur di kawasan itu. Kawasan yang sebelum kebun, oleh pemiliknya sudah dijadikan bangunan, tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan dan daya dukung tanah.

Kawasan permukiman yang kondisinya mirip dengan di kampung Ampera tersebar di berbagai tempat di Kota Bogor.

Rawan Longsor

Menurut data dari Kecamatan Bogor Selatan, di kawasan itu ada 39 titik rawan longsor pada 11 kelurahan, meliputi Kelurahan Cikaret, Empang, Bondongan, Batutulis, Pamoyanan, Cipaku, Genteng, Muarasari, Lawanggintung, Harjasari, Rancamaya, Bojongkerta, Mulyaharja, dan Pakuan.

Jika intensitas hujan di Kota Bogor sangat tinggi dan lama, ada saja laporan longsor di kawasan tersebut meskipun dalam skala kecil.

Misalnya, yang pernah di terjadi di Kampung Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, tahun lalu.
Ketika itu 10 rumah hancur karena tebing penahannya longsor, kemudian rumah paling atas menimpa rumah-rumah di bawahnya.

BPBD Dengan tingkat kerawanan bencana yang relatif sangat tinggi, selayaknya Kota Bogor punya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), yakni satuan kerja yang tidak hanya menangani korban bencana, tetapi juga untuk dalam hal pencegahannnya.

Hingga saat ini di Pemkot Bogor belum juga memiliki BPBD meskipun sudah lama pihak legislatif mendesak segera dibentuknya badan tersebut.

Daerah-daerah lain sekitar Kota Bogor, seperti Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi, sudah lebih dahulu punya BPBD.

Untuk urusan bencana alam, Pemkot Bogor memiliki Satlak (Satuan Pelaksanana) Penanggulangan Bencana yang terdiri atas sejumlah instansi pemerintah terkait, yakni UPT Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, Dinas Sosial Ketenagakerajan dan Transmigrasi, Badan Pengawas Pembangunan Permukiman dan Dinas Kesehatan.
Unit ini bergerak setelah adanya informasi bencana, termasuk mengoordinasi bantuan sembako bagi para korban.
Namun, untuk upaya-upaya pencegahan, misalnya, mengukur kekuatan tebing-tebing yang ada di permukiman padat, praktis belum tertangani secara khusus.

Bentuk BPBD

Kepala Pusat Studi Bencana, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Euis Sunarti menyayangkan belum terbentuknya Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kota Bogor.

"Bencana longsor di Kota Bogor hingga menewaskan empat orang awal pekan ini, antara lain akibat akumulasi dari beberapa faktor yang saling berinteraksi, salah satunya belum terbentuknya BPBD di wilayah tersebut," katanya.

Ia mengemukakan bahwa di Kota Bogor sering terjadi bencana longsor, tetapi dalam skala kecil. Namun, dampaknya sangat fatal karena selalu dibarengi jatuhnya korban jiwa. Ini adalah hasil dari beberapa faktor yang saling berinteraksi salah satunya karena tidak adanya BPBD.

Prof. Euis menjelaskan bahwa Pemerintah memiliki tanggung jawab membina masyarakat dalam menghadapi kebencanaan. Akibat belum adanya BPBD di Kota Bogor, peran pengurangan risiko dari mitigasi bencana menjadi minim.

Sementara itu, Pemkot Bogor, seperti dikemukakan oleh Sekretaris Daerah Ade Sarip Hidayat mengakui pentingnya pembentukan unit baru, yakni BPBD.

"Pembentukan BPBD ini sudah kita bicarakan dan ini merupakan inisiatif dari DPRD. Saat ini rencana pembentukan BPBD tengah dibahas di DPRD dalam raperda baru, yakni penanggulangan bencana yang akan dibentuk," kata Plt. Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat di Bogor, Selasa (4/3).

Ia menyebutkan bahwa Pemerintah Kota Bogor sedang mempersiapkan semua komponen pendukung, seperti anggaran dan sumber daya manusia agar organisasi perangkat daerah (OPD) baru tersebut dapat terbentuk pertengahan tahun ini.

Diakui memang penanggulangan bencana melalui Satlak tidak cukup karena masih bersifat penanganan pascabencana. Sementara itu, dalam kebencanaan harus ada pra, tanggap, dan pasca yang semua itu ada dalam tugas BPBD.

Seiring dengan perkembangan kota dan makin menjamurnya permukiman di lahan kritis yang mengakibatkan ancaman bencana makin tinggi, sudah selayaknya manajemen penanganannya dilakukan secara cepat sebelum jatuhnya korban berikutnya.

(adh/ant)

 

.