Wiskul Bogor Harus Sajikan Produk Bersertifikasi Halal

  foto:Dok

Bogor, Trans Bogor
Kesadaran dan komitmen pelaku usaha masih rendah dalam menghasilkan pangan asal hewan aman, sehat, utuh, halal (ASUH) serta layak. Padahal, Kota Bogor menjadi salah satu kota yang menyandang predikat halal. Seharusnya, hal-hal seperti itu juga diutamakan untuk mendukung Kota Bogor sebagai kota halal.

Hal ini diakui Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Kota Bogor Shahlan Rasyidi. "Kesadaran akan kehalalan produk masih rendah. Sejauh ini, saya melihat mereka cenderung lebih mengoptimalkan kuantitas produksi," ujar Shahlan, Rabu (19/2).

Lebih lanjut Shahlan mengatakan, sebagai kota yang menjadi tujuan wisata kuliner (wiskul) Kota Bogor harus bisa menyediakan produk pangan yang terjamin kualitas sekaligus kehalalannya. Apalagi, konsumen muslim jumlahnya terus meningkat. "Kita ketahui, bahwa produk halal telah menjadi trend baru dalam bisnis internasional," katanya.

Shahlan berharap melalui sosialisasi akan mendorong para pelaku usaha di Kota Bogor khususnya produsen produk pangan untuk melaksanakan sertifikasi dan labelisasi halal terhadap produk-produk yang dihasilkannya. “Intinya kita ingin memberikan jaminan kepastian status halal bagi produk-produk yang beredar di Kota Bogor," tegasnya.

Keseriusan Pemerintah Kota Bogor untuk mewujudkan Kota Bogor sebagai kota halal pun terus ditunjukkan melalui berbagai pelatihan yang digelar kepada para pengusaha dan peternak. Salah satunya, materi mengenai kehalalan produk pangan asal hewan yang selama ini banyak dikesampingkan.

Tak Mengganggu Kesehatan
 
Hal-hal yang perlu dipahami baik oleh pengusaha maupun peternak misalnya tata cara penyembelihan hewan sesuai syariat Islam serta bagaimana proses pengolahan hewan itu hingga sampai ke tangan konsumen. "Memang hal yang sederhana seperti penyembelihan hewan harus menghadap ke arah kiblat, dan membaca basmallah sebelum melakukan penyembelihan. Tapi, kan, kadang terlupakan karena fokus pada kuantitas daging yang harus dihasilkan," tuturnya.
 
Dipaparkan Shahlan, produk pangan asal hewan juga harus aman. Artinya tidak mengandung bahaya-bahaya biologis, kimiawi, dan fisik atau bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Kedua, produk pangan asal hewan harus sehat yang artinya mengandung bahan– bahan yang menyehatkan manusia.  Daging juga harus utuh atau tidak dikurangi atau dicampuri dengan bahan lain.

Sementara, kategori layak yaitu dapat diterima etis, dan lazim dikonsumsi manusia. "Artinya, tidak menjijikan dan tidak busuk, tergantung budaya, kebiasaan dan agama," lanjut Shahlan. Pelatihan, kata Shahlan sudah digelar di beberapa kecamatan. Harapannya, pemahaman akan kehalalan produk pangan asal hewan semakin meningkat sehingga predikat kota halal benar-benar terealisasi. (wid/den)

.