Hilangnya Maskapai Malaysia Karena Ledakan

  Keluarga salah satu penumpang pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 rute Kualalumpur-Beijing, Surti Dahlia, menunjukan surat ijin mengemudi internasional Surti di Medan, Sumut, Minggu (9/3). Surti Dahlia, warga Medan berkewarganegaraan Belanda itu merupakan salah satu penumpang pesawat Malaysia Airlines yang dikabarkan hilang. foto: antara

BANYAK spekulasi yang berkembang bahwa hilangnya maskapai penerbangan Malaysia karena aksi teror. Pesawat Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines yang hilang pada 8 Maret 2014 ditenggarai diledakan sebelum sempat memberikan sinyal bahaya di darat. 

Perisitwa ini akhirnya mengingatkan kembali musibah dengan aksi pembajakan yang terjadi pada tanggal 4 Desember 1977.Ketika itu, sebuah pesawat Boeing 737 Malaysia Airlines dengan kode penerbangan MH 653 dibajak dan jatuh di Tanjung Kupang, Johor. 

Dalam peristiwa itu, menewaskan 100 penumpang di dalamnya, termasuk sejumlah pejabat penting Malaysia. Aksi pembajakan yang sampai kini masih menjadi misteri itu, terjadi pukul 20.35 malam. Lokasi jatuhnya pesawat di hutan bakau Tanjung Kupang, Johor. Ketika itu pesawat berangkat dari Pulau Pinang menuju Singapura.

Ketika itu, jam menunjukkan pukul 19.21 malam. Pesawat Malaysia Airlines Boeing 737 MH 653 lepas landas dari Lapangan Terbang Antarabangsa Subang (LTAS), Pulau Pinang menuju Kuala Lumpur sebelum meneruskan penerbangan ke Singapura. Di dalam pesawat ada 93 penumpang diantaranya para pelancong asing bersama tujuh kru. 

Setengah jam kemudian, pesawat melintasi Batu Arang dan direncanakan akan mendarat di Bandara LTAS di Selangor.

Dalam perjalanan itu tiba-tiba petugas menara pengawas mendapatkan laporan dari kru pesawat bahwa pesawat sedang dibajak, tepat pukul 19.54. Mendapat penjelasan itu, petugas menara pengawas membersihkan semua landasan agar pesawat tersebut mendarat. Beberapa petugas sempat terkaget-kaget begitu melihat pesawat hendak landing, tiba-tiba terbang kembali mengangkasa, menuju Singappura.

Pihak bandara Singapura sendiri ketika itu, juga sudah memberikan izin kepada pilot untuk mendarat. Namun tak lama kemudian, pesawat hilang dari pantauan radar. Belakangan akhirnya diketahui pesawat terjatuh dan meledak di Tanjung Kupang.

Tragedi memilukan itu menelan korban cukup banyak, diantaranya 73 warga negara Malaysia, 3 (Australia), 5 (Inggris), 4 Jerman, 1 (Afghanistan), 3 (India),1 (Thailand, 1 Jepang, 1 (Singapura), 1 (Kanada) dan 3 (Indonesia), 1 (Amerika) dan lain-lain.

Penumpang lainnya adalah Menteri Pertanian Malaysia Datuk Seri Ali Ahmad.

Dari hasil olah TKP, ditemukan sejumlah selongsong peluru yang diduga milik pembajak. Bahkan, ketika itu dikabarkan ajudan Datuk Seri sempat duel dengan para pembajak. Sampai saat ini belum diketahui kelompok dari mana para pembajak pesawat yang telah menelan korban jiwa cukup banyak. Begitu juga apa motifnya.

Menjurus Aksi Teror

Dari analisa media terbitan Malaysia ada beberapa kemungkinan hilangnya pesawat tersebut karena aksi terus.
Ada spekulasi bahwa MH370 mungkin telah menjadi target teroris setelah otoritas Malaysia menyatakan bahwa mereka tengah menyelidiki dua penumpang yang menggunakan paspor curian. Kedua penumpang itu membeli tiket pesawat mereka lewat China Southern Airlines, yang melakukan code-sharing dengan MAS. Keduanya menggunakan paspor seorang warga Italia dan Austria yang mengaku telah kehilangan paspor mereka saat berada di Thailand dua tahun lalu.

Dikatakan John Goglia, mantan anggota Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS, tak adanya tanda darurat yang dikeluarkan pilot menunjukkan bahwa pesawat tersebut kemungkinan mengalami dekompresi eksplosif atau hancur akibat bahan peledak.

"Itu pasti sangat cepat karena tak ada komunikasi," cetus Goglia kepada Reuters, Senin (10/3/2014). 

Ditambahkannya, adanya paspor palsu yang digunakan dua penumpang tersebut merupakan ancaman keamanan besar.

Menurut laporan Departemen Luar Negeri AS tahun 2012, Malaysia rentan akan aktivitas teroris dan telah digunakan sebagai tempat transit dan perencanaan untuk para teroris. Namun Deplu AS mencatat, Malaysia belum pernah mengalami insiden terorisme serius selama beberapa tahun.

Para pakar lainnya menekankan bahwa hilangnya pesawat MAS ini terjadi di saat berakhirnya pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional di Beijing, China serta bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran akan terorisme di China.

Kolonel Richard Kemp, mantan kepala kontraterorisme pemerintah Inggris, mengatakan bahwa kemungkinan aksi teroris harus dipertimbangkan dengan serius. Dia menekankan kabar adanya kaitan antara para separatis dari Xinjiang, China dan jaringan Al-Qaeda. Pemerintah China menuding para separatis Xinjiang mendalangi serangan belum lama di wilayah Yunnan yang menewaskan 29 orang.

Ledakan di Pesawat

Sementara itu sejumlah pilot dan pakar penerbangan mengatakan, ledakan di dalam pesawat sangat mungkin terjadi. Sebabnya, saat terakhir kali putus kontak, pesawat tersebut telah berada dalam ketinggian penjelajahan atau tahap paling aman dari penerbangan, dan kemungkinan telah berada dalam mode autopilot.

"Itu bisa saja ledakan, tersambar petir atau dekompresi parah," ujar mantan pilot MAS seperti dilansir The Straits Times, Senin. 

"Boeing 777 bisa terbang setelah serangan kilat dan bahkan dekompresi parah. Namun dengan ledakan, tak mungkin. Berakhir sudah," imbuhnya.

Para pakar lainnya mengungkapkan, penurunan tekanan kabin yang tiba-tiba dan ekstrem juga bisa menyebabkan dekompresi eksplosif dan menghancurkan pesawat. Dekompresi seperti itu bisa disebabkan oleh korosi atau metal fatigue di badan pesawat.

Gangguan Mesin

Muncul info bahwa pesawat MAS tersebut melakukan upaya untuk putar balik sebelum kontak radar terputus. Ini menimbulkan spekulasi bahwa pesawat tersebut berputar balik karena adanya masalah mesin.

Menurut para pakar, "air turn back" atau ATB itu berarti pesawat harus kembali ke bandara asal dikarenakan adanya gangguan atau dugaan gangguan pada salah satu bagian pesawat. Namun jika ini kasusnya, seharusnya pilot mengeluarkan tanda atau sinyal gangguan. Sementara pada kasus pesawat MAS ini, pilot tidak mengeluarkan sinyal apapun.

Pakar-pakar lainnya menyebutkan kemungkinan pesawat tersebut mengalami gagal mesin. Pada Januari 2008, pesawat British Airways 777 jatuh sekitar 1.000 kaki dari landasan di Bandara Heathrow, London, Inggris. Saat pesawat akan mendarat, mesin-mesin pesawat kehilangan tenaga dikarenakan adanya butiran-butiran es dalam sistem bahan bakar.  Tak ada korban jiwa dalam insiden itu.

Menurut para pakar, matinya kedua mesin pesawat mungkin terjadi dalam kasus pesawat MAS. Namun jika ini kasusnya, pesawat MAS harusnya masih punya waktu sekitar 20 menit sebelum jatuh sehingga pilot bisa memberikan tanda darurat. 

Pesawat Mogok

Sejumlah pakar menyebutkan adanya beberapa kesamaan antara misteri MH370 ini dengan hilangnya pesawat Air France Flight 447, yang jatuh di Samudera Atlantik pada tahun 2009 dalam penerbangan dari Rio de Janeiro, Brasil menuju Paris, Prancis. Sebanyak 228 orang tewas dalam tragedi itu.

Pihak maskapai Air France awalnya menyebut badai sebagai penyebab musibah tersebut. Namun kemudian hasil penyelidikan menunjukkan bahwa sensor kecepatan, yang dikenal sebagai pitot tubes, yang berada di bagian luar pesawat Airbus tersebut ditutupi es dan menyebabkan berhentinya mode auto-pilot.

Namun data yang ditemukan setelah dua tahun penyelidikan, membuat otoritas menyimpulkan bahwa kesalahan pilot juga berperan dalam musibah itu. Cara pilot menangani pesawat setelah auto-pilot berhenti menyebabkan pesawat mengalami mogok atau stall yang tak bisa diatasi.

Kondisi stall adalah ketika pesawat berhenti terbang dan mulai turun dengan drastis. Menurut hasil penyelikan, pilot Air France -- yang tak pernah dilatih untuk menerbangkan pesawat dalam mode manual pada ketinggian puncak -- telah menaikkan hidung pesawat berulang kali. Padahal seharusnya pilot justru menurunkan hidung pesawat. Kondisi ini menyebabkan anjloknya kecepatan dan pada akhirnya menyebabkan pesawat mengalami stall.

Kesalahan Pilot

Sejumlah pakar mengatakan, pilot bisa saja mengalami disorientasi. Pilot pesawat MAS mungkin saja telah menghentikan mode auto-pilot tanpa sepengetahuannya dan pesawat kemudian nyasar, namun pilot baru menyadari ini setelah semuanya terlambat. Namun hal ini kemungkinannya sangat kecil mengingat pesawat tersebut seharusnya bisa tertangkap oleh radar.

Ada pula kasus langka: pilot bunuh diri! Pada tahun 1999, pesawat EgyptAir tujuan Kairo, Mesir yang terbang dari New York, Amerika Serikat, jatuh di wilayah sebelah selatan Massachusetts dan menewaskan 217 orang.

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS menyatakan kecelakaan itu disebabkan oleh kopilot Gamil el-Batouty. Dia sengaja menjatuhkan pesawat sebagai balas dendam setelah sebelumnya dirinya dikenai sanksi atas kejahatan seks dan direktur yang mengatakan bahwa dirinya tak akan diizinkan lagi terbang di wilayah AS, berada di dalam pesawat saat kejadian.

Namun otoritas Mesir membantah hal tersebut. Menurutnya, kecelakaan itu akibat masalah teknis.

(adh/dtc)

 

.