Setnov Mundur, Ini Ungkapkan Ruhut Sitompul

©net
Istimewa

Transbogor.co-Sidang pelanggaran etika Ketua DPR Setya Novanto sudah menghasilkan keputusan. Sejumlah keterangan saksi dan bukti yang dibeberkan mengungkap perbuatan lancung Setya menjadi calo perpanjangan kontrak Freeport.

Dalam sidang sebanyak 10 anggota MKD meminta politikus Golkar itu diberi sanksi sedang, sisanya 7 anggota ingin Setya diberi hukuman berat. Jelas ini membuat Setya semakin terjepit. Akhirnya dia memilih mundur sebagai orang nomor satu di Senayan.

Keputusan ini disambut riuh oleh beberapa orang koleganya di DPR. Beberapa anggota DPR nontong bareng, antara lain anggota Komisi I DPR PDIP Charles Honoris, anggota Komisi X PDIP Junico BP Siahaan, dan anggota Komisi III DPR Demokrat Ruhut Sitompul. Mereka berkumpul menonton televisi layar kecil yang menayangkan secara langsung jalannya rapat putusan MKD.

Mereka mendengarkan Wakil Ketua MKD Sufmi Dasco Ahmad, membacakan keputusannya. "Ada dugaan pelanggaran dalam kategori berat," kata Dasco dalam sidang di Kompleks Parlemen DPR RI.

Lantas tiga orang anggota DPR tersebut berteriak gembira dan bertepuk tangan. Setelah itu mereka asik berselfie ria. "Novanto mampuslah engkau," kata Ruhut berteriak keras.

Politikus Partai Demokrat itu menganggap Setya sudah lengser berdasarkan perumusan sanksi yang diberikan MKD. "Sudah lengser. Ada pimpinan yang lain, emang dia yang punya? Dia kan sudah nggak pantaslah jadi ketua, rasain lah dia," kata Ruhut.

Ruhut juga mengatakan, secara otomatis kursi ketua DPR saat ini kosong. Maka dari itu tugasnya bisa diserahkan pada wakil ketua DPR. "Memang sudah enggak jadi ketua. Nanti kita isi ketuanya sama yang baru," tuturnya.

Ruhut melanjutkan, Setya seharusnya merasa malu dengan apa yang telah dia lakukan. Karena pelanggaran etika memang sudah jelas berdasarkan bukti rekaman yang telah beberapa kali diputar.

"Sudahlah, Novanto itu sudah jelas dia melanggar etika. Sudah jauh hari saya mengatakan, sudahlah Novanto kau harus mundur," kata Ruhut di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (15/12). (Mer)

.