Diduga Siksa Pembantu, Rumah Jenderal Polisi Digerebek

  foto:Dok

Bogor, Trans Bogor - Tim penyidik Kepolisian Resor Bogor Kota, akhirnya menggerebek rumah seorang perwira tinggi Mabes Polri terkait dengan kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan pembantu rumah tangga, Selasa (18/2). Rumah di Jalan Danau Matana, Blok C5, Kompleks Duta Pakuan, Tegal Lega, Bogor Tengah, Kota Bogor itu terlihat sangat tertutup ketika didatangi  pihak penyidik dari Polres Bogor Kota.

Berdasarkan laporan seorang pembantu rumah tangga yang berhasil kabur dari rumah itu, keluarga Brigadir Jenderal (Pol) MS yang bertugas di Mabes Polri sering menyiksa belasan pembantu rumah tangga yang ada di dalam rumah. Bahkan, gaji selama beberapa bulan pun tak diberikan. Ada dugaan, tempat itu menjadi lokasi perdagangan orang (trafficking).

Penyidik dari Polres Bogor Kota terlihat mendatangi rumah itu untuk mengecek kondisi 14 pembantu yang masih ada di dalam rumah dan diduga mengalami penganiayaan dan penyekapan oleh majikannya yang tak lain adalah istri dari Brigjen (Pol) MS.

Kasus ini berawal dari laporan seorang korban bernama Yuliana Leiwer (19) ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Kepolisian Resor Bogor Kota, akhir pekan lalu. Yuliana melapor telah mengalami penganiayaan fisik dan tidak digaji selama tiga bulan saat bekerja di rumah itu. Yuliana mengaku bekerja di rumah keluarga MS sejak November 2013.
 

Diancam dan Dianiaya
Selain Yuliana masih ada 14 pembantu lainnya. Para pembantu terdiri atas 9 perempuan dan 6 lelaki. Menurut Yuliana, selama bekerja, para pembantu kerap mendapat perlakuan kasar yakni ditampar dan dicakar saat melakukan kesalahan, meskipun hanya kesalahan kecil.

Selain dianiaya, pembantu juga diancam tidak dibayar gajinya. Dalam laporannya, Yuliana yang asal Aru Selatan, Dobo, Maluku Tenggara, kerap tidak diberi makan jika pekerjaan dianggap keliru oleh majikan. Padahal, Yuliana merasa sudah menjalankan tugas sesuai perintah majikan.

Kasat Reskrim Polres Bogor Kota, AKP Condro Sasongko mengatakan telah memeriksa pelapor maupun terlapor. Meski ada dugaan trafficking, Condro belum bisa memastikannya karena penyidikan masih berlangsung. Dalam kasus ini, yang terlihat jelas baru tindak kekerasan terhadap anak karena sebagian besar pekerja masih di bawah umur. Penyidik juga sudah meminta keterangan dari  Ketua RT setempat.

"Memang ada arah ke trafficking, tapi itu juga belum tentu karena masih penyidikan," kata Condro. Yang jelas, imbuh Condro, untuk sementara ini kasus ini masih terkait dengan pasal kekerasan terhadap anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sementara, warga sekitar rumah itu mengaku tidak tahu kegiatan yang ada di rumah megah tersebut. Penjagaan yang ketat serta selalu tertutup membuat tetangga sulit memantau siapa saja yang ada di dalam rumah dan apa saja kegiatannya.

Bukan Kasus Pertama

Keluarga jenderal polisi berinisial MS di Jalan Danau Mantana, Blok C5, Kompleks Duta Pakuan, Kelurahan Tegal Lega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor ternyata pernah bermasalah dengan kasus yang sama di tahun 2012. Saat itu, sejumlah pembantu rumah tangga juga sempat kabur dari rumah megah itu karena mendapat siksaan dari istri sang jenderal.

Hanya saja, informasi yang diperoleh Trans Bogor menyebutkan, saat itu pihak kepolisian tidak memproses kasus ini. Salah seorang saksi, HN, mengaku sekitar tahun 2012 sempat datang ke lokasi yang sama karena saat itu heboh adanya pembantu rumah tangga yang kabur setelah mendapat kekerasan atau penyiksaan. "Waktu itu tengah malam ada yang kabur. Tapi ya gitu aja. Enggak sampai diproses. Orang pada tahu itu rumah jenderal," ujar HN.

Keterangan HN ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ketua RT Ketua 08 RW 03, Sri Hendari. Menurut dia, tahun 2012, saat dia belum jadi ketua RT, di rumah itu juga terjadi kasus serupa. Sebanyak 24 pembantu rumah tangga sempat mencoba kabur kala itu karena tidak mendapatkan gaji dan sering menjadi korban kekerasan istri Brigjen MS.

"Laporan, sih, banyak soal kekerasan di rumah ini. Tapi kita tidak bisa masuk ke rumah karena memang tertutup rapat. Apalagi, yang punyanya jenderal," kata Sri. Dia berani menjemput korban Yuliana karena ditemani oleh kerabat Yuliana dan ketua RT lain yang ada RW tersebut.


Belum Terima Gaji
Kasat Reskrim Polres Bogor Kota, Condro Sasongko yang dikonfirmasi mengatakan penyidik sudah memeriksa kondisi rumah. Di rumah itu, lanjut Condro, ditemukan 12 pembantu rumah tangga. Delapan di antaranya perempuan yang berasal dari luar Pulau Jawa. Kondisi mereka juga sehat. Bahkan, saat penyidik datang, mereka tidak mau dievakuasi atau dikeluarkan dari rumah itu.

Informasi yang diterima Condro menyebutkan para pembantu itu didapatkan dari penyalur di Pulo Gadung. Namun, pemilik rumah tidak tahu siapa penyalurnya. Para pembantu yang masih ada di dalam rumah juga belum dibayarkan gajinya oleh majikan.

"Berdasar keterangan pemilik rumah, para pembantu itu diperoleh dari penyalur di Pulo Gadung. Tapi, pemilik rumah tidak tahu siapa penyalurnya. Mereka juga harusnya digaji, tapi memang upahnya belum diberikan," kata Condro.

Penyidik, lanjut Condro, sudah memeriksa 6 orang saksi terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga ini. Selain itu, 12 orang saksi juga akan dipanggil untuk melengkapi bukti-bukti. "Kasus kekerasan kan, tidak bisa begitu saja dibuktikan. Harus ada bukti visumnya, ada saksi yang melihat pelaku melakukan kekerasan dan unsur-unsur lain yang harus dipenuhi," ujar Condro.

Meski demikian, Condro memastikan Polres Bogor Kota akan mengusut tuntas kasus ini tanpa melihat siapa pelakunya. Hanya, dalam proses penyelidikan dan penyidikan diperlukan kehati-hatian agar tidak ada kasus salah tangkap. "Bukan hanya kasus ini. Kasus yang lain juga sama. Cuma kan, kalian (wartawan) tahunya sudah diekspos saja," tambah Condro. (wid/den)

.