Tak sampai Target,Dua Pejabat Mundur. Devie :Itu Baru Sportif

  Ā©ilustrasi tb

Transbogor.co- Langkah mundurnya Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Sigit Priadi Pramudito dan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono ternyata malah mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Kedua pejabat ini memilih mundur dengan alasan yang hampir mirip, yakni tidak bisa memenuhi target yang menjadi tanggung jawabnya.

Baik masyarakat, politisi, akademisi sampai pejabat publik sama-sama beranggapan, keputusan Sigit dan Djoko mundur merupakan contoh baik bagi para pemimpin di Indonesia. Bahkan, Sosiolog budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menilai, sikap kedua pejabat ini bisa menjadi model baru kepemimpinan di Indonesia.

"Ya kita perlu apresiasi lah keberanian para pemimpin mengakui ada target yang tidak bisa dipenuhi. Betul ada yang berpendapat sebuah model baru kepemimpinan baru," kata Devi.

Menurutnya, sikap Djoko dan Sigit ini menjadi tantangan para petinggi-petinggi instansi pemerintahan untuk mengevaluasi manajemen organisasi terkait penempatan para pegawainya. Karena, kata Devie, ada kemungkinan, dua pejabat ini tidak maksimal dalam tugas karena tidak ditempatkan ditempat yang tepat.

"Ini adalah tantangan bagi pimpinan lebih tinggi lagi, Ini semata-mata kebesaran hati pemimpin loh atau ada manajemen organisasi yang perlu dievaluasi. Atau mungkin pimpinan yang baik yg dimiliki namun salah ditempatkan, justru akhirnya jadi sia-sia karena tidak bisa perform secara maksimal," jelasnya.

Dia mengatakan seharusnya sikap sportif dari Sigit dan Djoko ini dapat ditiru oleh para pejabat lain yang tidak becus menjalankan tugasnya. Sebut saja, mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto yang diduga melanggar etik dan tidak produktif dalam tugas malah memilih mencari celah mengamankan tampu kekuasaanya.

Bahkan, sampai harus dibuatkan sidang etik untuk membuktikan bahwa dirinya bersalah dan mengharuskannya mundur dari jabatan yang dia pegang.

"Virus kebesaran hati ini bisa ditiru para pemimpin lain, dia malu masih merasa ada yang lebih baik dari dia dan tidak bisa memenuhi target dari instansi yang dipimpinnya," tandas Devie.

Oleh sebab itu, dia berharap dengan mundurnya dua pejabat ini, Pemerintah pusat tidak lantas melepasnya begitu saja. Karena Djoko dan Sigit, lanjut dia, telah memiliki modal utama sebagai pemimpin, yakni etika dan moralitas yang baik.

"Dia ini punya modalitas yg bagus sebagai pemimpin tapi harus dicek apakah ini tempat yang bagus buat dia atau tidak. Orang seperti ini kalau mundur jangan dilepas, ini adalah syarat etika dan moral yang diharusnya dimiliki oleh pemimpin," tutupnya. (Mer/Rief)

.