Imigran di Puncak Bogor Buat Resah Warga

©

Transbogor.co - Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Cisarua, Dudi Hasan mengatakan, keberadaan para imigran akan terus menerus memberikan dampak buruk, baik bagi warga sekitar terutama kalangan muda sekitar yang berpotensi terpengaruh oleh gaya hidup dan perilaku buruk mereka.

"Seharusnya kantor imigrasi gencar melakukan pemeriksaan, bukan hanya melihat dan mendata paspor nya saja, tetapi yang lebih penting melihat perilaku mereka sehari-hari, serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar," katanya, Kamis (7/1).

Karenanya, lanjut dia, warga beserta Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Cisarua, akan melakukan sweeping terhadap para imigran. Bahkan menurutnya, jika ada yang kedapatan melakukan tindakan negatif saat digelarnya operasi, pihaknya akan bertindak tegas dengan cara mengusir para imirgran tersebut. "Kita akan lakukan operasi mulai dari rumah kontrakan di daerah Batulayang, karena disitulah banyak imigran menetap," tambahnya.

Rencananya, dalam operasi yang akan digelar beberapa waktu mendatang tersebut, pihaknya akan melibatkan warga dan sejumlah ormas lainnya dengan perkiraan jumlah mencapai 1000 orang. "Kami bekerjasana dengan warga sekitar serta ormas yang masih aktif di Cisarua, jumlahnya sekitar seribu orang. Soal waktunya nanti ditunggu saja kabarnya," pungkasnya.

Kehadiran imigran asal Timur Tengah di kawasan Puncak Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat seringkali dianggap sebagai pembawa persoalan terhadap lingkungan warga. Bahkan kini jumlah mereka pun hampir setengah dari jumlah penduduk asli. Namun kehadiran pencari suaka ini ternyata lebih banyak memberikan hal-hal negatif ketimbang keuntungan bagi warga pribumi.

Seperti terjadi belum lama ini, dua kubu imigran asal Afganistan dan Pakistan terlibat bentrokan dan peristiwa itu menjadi puncak kemarahan warga. Kejadian itu bermula saat mereka menyaksikan konser artis Timur Tengah di salah satu Hotel di Cisarua, hanya karena  saling senggol antar penonton, keributan pun tak terelakan hingga berujung saling serang seusai konser.

Diakui warga sekitar, sudah sejak lama mereka dibuat kesal dengan ulah imigran. Selain budaya dan gaya hidup yang jauh berbeda dengan warga pribumi, tak sedikit dari imigran yang secara terang-terangan melakukan hal negatif seperti sejumlah perempuan yang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan tarif yang cukup fantastis serta beberapa pria yang menjual minuman keras ke setiap hotel secara door to door.(Ahm/ar).

.