Nenek Bercanda Bawa Bom ditangkap Petugas Bandara

©

Transbogor.co - Kesal karena menjalani pemeriksaan yang ketat, seorang nenek berusia 69 tahun berinisal LM berurusan dengan petugas keamanan Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta.

Pasalnya, dia mempelampiaskan kekesalannya dengan mengaku membawa bom.

"Tadi pagi jam 07.00 WIB security Bandara Adi Sutjipto mengamankan seorang perempuan berinisial LM usai 69 tahun," ujar GM Angkasa Pura 1 Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, Agus Pandu Purnama, Jumat (8/1).

Agus menuturkan, LM yang merupakan warga Yogyakarta ini diamankan karena telah memberikan informasi palsu dengan mengaku membawa bom.

"Kami amankan karena telah memberikan informasi palsu yang meresahkan mengaku membawa bom," ucapnya.

Dia menjelaskan, LM merupakan penumpang pesawat Lion Air tujuan Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Sesampainya di bandara, seperti penumpang-penumpang lainnya, dia harus melewati beberapa pemeriksaan. Dia pun kesal lalu saat menjalani pemeriksaan ECP II Terminal A, LM lantas mengatakan bahwa dirinya membawa bom.

"Mendengar itu, security bandara lalu mengamankan LM," tegasnya.

LM mengaku, dia hanya bercanda membawa bom karena kesal harus melewati pemeriksaan di Bandara Adi Sutjipto yang begitu ketat.

"Ngakunya bercanda, karena kesal terlalu banyak diperiksa. Sabuk dilepas, dompet diperiksa, jaket dilepas," ungkap Agus.

Setelah diperiksa petugas keamanan, LM akan diserahkan ke pihak kepolisian mengacu pada peraturan Kementerian Perhubungan Pasal 334 huruf e UU nomer 1 tahun 2009 tentang pemberian informasi palsu.

Sanksi diatur dalam Pasal 537 UU penerbangan dimana bisa mendapat sanksi maksimal 1 tahun penjara.

Agus mengakui, kejadian serupa pernah terjadi pada 13 Desember 2015 lalu saat seorang penumpang Sriwijaya Air tujuan Jakarta berinisial DN (51) juga mengaku membawa bahan peledak. Alasannya sama.

Dia mengaku kesal karena ketatnya pemeriksaan. Penumpang tersebut, imbuhnya, juga diamankan dan saat ini telah diproses di kepolisian.

"Saya mengimbau agar masyarakat tidak menyampaikan informasi palsu yang meresahkan, mengganggu dan membahayakan penerbangan sebab akan dikenakan sanksi," pungkasnya. (Ahm/KG)

.