Sungai Ciliwung Makin Kritis Karena Limbah

  Sungai Ciliwung yang sudah tercemar masih di pergunakan sebagai kebutuhan MCK bagi Warga di pinggiran sungai di Kota Bogor, rabu 19-02-2014

PAGI itu cahaya matahari mulai memantul hingga ke dasar Sungai Ciliwung. Suara tawa para wanita terdengar renyah, ditingkah gemericik air dan gesekan sikat penuh busa. Setiap pagi, di sepanjang aliran Sungai Ciliwung di sekitar Lapangan Sempur Kota Bogor akan  terlihat  para wanita yang nampak dengan asyiknya mencuci di sungai.

Pemandangan serupa juga terlihat di sekitar Pulo Geulis, Babakan Pasar. Setiap pagi, sungai sudah seperti arena pangsa arisan bagi para ibu-ibu ini saja. Mereka dengan suka cita mencuci di sungai sambil terus mengobrol. Mulai dari membahas masalah rumah tangga, sekolah anak, hingga meroketnya harga sejumlah sembako. Percakapan tersebut mengalun riang dan panjang, mengiring perlahan hingga ke fase bilasan terakhir cucian.

Tanpa mereka sadari, perilaku mereka ini sudah membuat sungai semakin kritis. Ada yang sadar, tetapi karena dinilai lebih praktis, maka sungai terpaksa menjadi pilihan. Tidak hanya Sungai Ciliwung yang kritis, Sungai Cisadane pun dalam kondisi kritis.

Berdasarkan pemantauan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD), pencemaran di kedua sungai, terutama disebabkan oleh bakteri escherichia coli (e-coli ) yang berasal dari limbah rumah tangga (tinja). Kondisi pencemarannya pun tergolong sudah sangat kritis.

Menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bogor, Dody Achdiat, berdasarkan hasil pantauan di tahun 2012, status mutu air rata-rata di Sungai Ciliwung di seluruh lokasinya tercemar berat.

"Hal yang sama juga terjadi di Sungai Cisadane," kata Dody.

Kandungan yang melebihi ambang batas misalnya BOD, COD, e-coli, nitrit, nitrat, seng, hingga sianida dan sulfida. Padahal, kedua sungai tersebut seharusnya menjadi sumberdaya alam yang masih bisa dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan, baik masyarakat sekarang maupun generasi yang akan datang.

Sungai, lanjut Dody, juga seharusnya bisa menjadi habitat bagi sejumlah populasi air tawar. Namun, karena kondisinya yang sudah tercemar, maka hampir sebagian besar populasi ikan yang ada di Sungai Ciliwung dan Cisadane pun menghilang.

Di Kota Bogor, lanjut Dody, aliran sungai Cisadane merupakan salah satu pemasok bahan baku kebutuhan air bersih yang dikelola oleh PDAM Tirta Pakuan. Karena itu, perlu dirawat dan dilindungi dari pencemaran yang lebih parah dan lebih berat. Jika tidak, bisa dipastikan pengolahan air di PDAM pun akan semakin mahal biayanya. Selain itu, kualitas airnya juga semakin buruk.

Untuk menyelamatkan DAS, Pemerintah Kota Bogor telah mengupayakan perbaikan sanitasi di wilayah-wilayah permukiman pinggir sungai dengan tujuan supaya masyarakat bisa mengubah kebiasaan lama mereka yang membuang aliran rumah tangga ke aliran sungai.

Misalnya di beberapa kawasan permukiman telah dilaksanakan proyek percontohan dengan membangun sarana MCK umum yang dapat dipergunakan masyarakat supaya mereka tidak lagi membuang hajat di sungai.

"Jadi, yang perlu dilakukan yaitu meningkatkan kepedulian dan mengedukasi masyarakat yang tinggal di wilayah DAS agar jangan menjadikan sungai sebagai halaman belakang mereka tempat membuang sampah dan limbah," kata Dody lebih lanjut.

Dengan demikian, diharapkan lingkungan sungai menjadi area masih tetap indah dipandang mata dan nyaman ditempati. “Sungai Ciliwung dan Cisadane beserta aliran aliran anak sungainya seperti Cidepit dan Cipakancilan merupakan sumber kehidupan yang penting," tutup Dody.
Sementara itu, salah seorang warga yang tinggal di pinggir sungai mengaku sudah terbiasa menjadikan sungai sebagai tempat sampahnya.

"Ya, abis gimana lagi. Truk sampah enggak sampai ke sini, bak sampah juga enggak ada. Ya udah, buang saja ke kali belakang rumah. Nanti juga hanyut," ujar warga, Yani.

Sebagian besar sungai yang ada di Jawa Barat berada dalam kondisi kritis. Tak terkecuali Sungai Ciliwung yang melintas di Kota dan Kabupaten Bogor. Tak hanya mengancam habitat yang ada di sungai, kondisi sungai yang kritis pun menimbulkan masalah baru bagi masyarakat yang tinggal di hilir Ciliwung, seperti banjir. Sementara, di kawasan hulu, longsor siap mengancam akibat kondisi Ciliwung yang kritis.

Ikan, Dimana Kau Sekarang?

Anda mungkin tidak kenal lagi dengan jenis ikan hampala dan genggehek. Padahal, ikan jenis ini dulu banyak dicari oleh anak-anak Ciliwung sebelum tahun 1990-an. Dagingnya yang enak membuat ikan ini dipilih menjadi salah satu sumber protein. Namun, karena ulah manusia, ikan jenis ini mulai menghilang.

Tanpa kesadaran dari masyarakat, bisa jadi ikan jenis senggal, beunteur, dan berot pun akan punah beberapa tahun ke depan. Ketua Ciliwung River Fishing Community, Maruli Alpia memastikan sekitar 90 persen jenis ikan asli Sungai Ciliwung telah punah akibat kerusakan sungai yang semakin parah. Salah satunya akibat ulah manusia.

Dari sekitar 187 jenis ikan asli Ciliwung, saat ini tinggal 10 jenis ikan yang berhasil ditemukan untuk kemudian dikonservasi oleh pecinta Ciliwung. Dikatakan Maruli, sekitar tahun 1980an, masih ada sedikitnya 180 jenis ikan asli Ciliwung. "Kalau data LIPI menunjukkan ada sekitar 187 jenis di tahun 1910-an. Namun, saat ini cuma ada 10 jenis yang ditemukan di Ciliwung. Ikan-ikan asli Ciliwung seperti hampala, genggegek sudah tidak ada lagi. Bahkan, udang yang menjadi penanda kualitas air pun sudah hilang," ujar Maruli.

Menurut Maruli, kondisi Sungai Ciliwung, terutama daerah tutupan di hulu sungai ikut mempengaruhi tingkat kepunahan ikan. Apalagi, naik turunnya debit air sungai yang dipengaruhi oleh daerah tutupan di kawasan hulu juga mempengaruhi reproduksi ikan. Dia juga prihatin karena kondisi ini diperparah dengan masih banyaknya masyarakat yang menggunakan setrum dan racun untuk mencari ikan.

Oleh karena itu, sosialisasi melalui komunitas pemancing pun terus digalakkan. Perlombaan memancing sebagai sosialisasi dan edukasi jenis ikan asli Ciliwung pun dilakukan. Ikan yang berhasil ditangkap kemudian dilepaskan kembali atau diambil untuk dikonservasi. Diakui Maruli, cukup sulit mengkonservasi jenis ikan asli Ciliwung karena sebagian besar hidup dan bereproduksi di bebatuan.

Sampai saat ini, pihaknya baru mampu mengkonservasi tidak sampai 10 jenis ikan asli Ciliwung dibantu oleh para pemancing. "Udang asli Ciliwung yang paling susah karena indukannya saja susah ditemukan," kata Maruli. Meski tidak bisa memunculkan kembali ikan asli Ciliwung yang sudah punah, upaya yang dilakukan komunitasnya mulai membuahkan hasil positif, terutama di kawasan Gadog sampai Katulampa.

Beberapa jenis ikan mulai banyak jumlahnya. "Misalnya dulu kalau nangkap ikan hanya dapat 15 ekor, sekarang bisa 150 ekor," ujarnya. Selain itu, komunitasnya juga mulai melakukan restoking ikan dari Lido maupun Cisadane untuk ditanam kembali ke Ciliwung.

Beberapa jenis ikan yang sudah mulai dikonservasi misalnya berot (Macrognathus maculatus), senggal (Hemibagrus nemurus), paray (Rasbora aprotaenia), soro (Tor soro), kehkel (Glyptothorax platypogon), bogo/gabus (Channa striata), beunteur (Puntius binotatus), dan ramokasang.

Di sisi lain, keberadaan ikan-ikan ini juga terancam oleh ikan-ikan invasif seperti ikan sapu-sapu (Pterygoplichtys pardalis), dan bawal (Colossoma macropopum). Menurut Maruli, ikan-ikan invasif memiliki daya tahan dan dapat berkembangbiak dengan lebih baik dibandingkan ikan asli Ciliwung. "Biasanya mereka memakan telur ikan asli Ciliwung," ujarnya.

Minimnya Kesadaran Masyarakat

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat Anang Sudarna, Senin (17/2) mengatakan, kesadaran masyarakat serta pelaku industri soal kelestarian lingkungan yang masih rendah menjadi salah satu penyebab utamanya.

Akibatnya, lanjut Anang, Jawa Barat terancam terkena bencana baik pada musim kemarau maupun musim penghujan.

"Jika tidak segera dikonservasi, sungai bisa menjadi sumber bencana masyarakat, baik di musim kemarau berupa kekeringan dan musim penghujan berupa banjir dan ancaman longsor," ujar Anang.

Lebih lanjut, Anang memaparkan dari 41 daerah aliran sungai yang ada di Jabar, sebanyak 25 DAS kritis dan sangat kritis. Hal ini berpengaruh pada kualitas sumber daya air di 7 DAS utama yang juga mengalami pencemaran berat. Parameternya, COD, BOD, dan TSS yang melebihi bakumutu.

Kondisi kritis sebuah DAS bisa dilihat dari berbagai macam kriteria, di antaranya, kekritisan lahan, sedimentasi, topografi, curah hujan, dan lain-lain. Disebutkan Anang, DAS yang mengalami kekritisan salah satunya Ciliwung dan Cisadane. Selain itu, sungai lain di wilayah Jabar seperti di Bandung dan daerah lainnya pun mengalami kondisi yang sama.

Anang mengatakan, penyebab sungai tersebut kritis adalah limbah domestik, sampah rumah tangga, industri dan pertanian. Untuk pertanian, yang mencemari adalah kotoran ternak, pestisida, dan pupuk berlebihan.

''Yang sudah konkret tindakannya, baru rehabilitasi sungai Citarum. Karena, sungai ini paling besar meliputi 10 kabupaten/kota,'' katanya.

Sungai yang lainnya, kata dia, baru sebatas penyuluhan ke masyarakat.

 ''Untuk sungai yang lain, Ciliwung sudah ada gerakan Ciliwung bersih yang di motori Jakarta,'' katanya.

Selain sungai utama, anak-anak sungainya pun diyakini Anang juga mulai terancam karena ulah manusia. Selain bencana, ciri-ciri lain yang memperlihatkan kondisi sungai yang rusak secara kasat mata misalnya sungai berbau dan kotor (penuh limbah).

"Bangunan yang berdiri di atas/sempadan sungai juga menjadi salah satu penyebab sungai cepat rusak. Selain buang sampah langsung ke sungai, keberadaan bangunan itu juga menyebabkan pinggiran sungai mudah longsor," tuturnya.

Pemicu Kerusakan Karena Budaya Tak Menghargai Lingkungan


Wali Kota Bogor Diani Budiarto mengakui jika budaya masyarakat yang masih belum menghargai lingkungan menjadi salah satu perusak sungai. Saat ini, lanjut Diani, pemerintah pusat pun sedang berusaha mengonservasi kondisi aliran sungai Ciliwung. Misalnya pembangunan sumur resapan di sepanjang aliran sungai Ciliwung.

Selain itu, penataan permukiman di sepanjang Sungai Ciliwung juga sedang dilakukan. Meski, Diani mengakui hal itu akan sangat sulit. Sebab, sebagian besar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai sudah berpuluh-puluh tahun dibiarkan meninggali wilayah itu.

"Penataan kawasan Puncak saja susah. Apalagi ini, bantaran sungai. Sebab, mereka punya budaya sendiri yang sulit untuk diubah. Mereka sudah menganggap bantaran sungai sebagai habitat dan dunia mereka. Perlu waktu yang sangat lama untuk mengubahnya," ujar Diani.

Di Kota Bogor saja, ada puluhan ribu masyarakat yang tinggal di bantaran sungai sehingga menyebabkan sungai tercemar limbah domestik. Menurut Diani, sebagian besar pencemar sungai di Kota Bogor adalah limbah domestik. Apalagi, rumah-rumah di bantaran sungai menempatkan sungai sebagai bagian belakang rumah mereka. "Sudah kayak tempat sampah raksasa saja," tutur Diani.

Untuk itu, Pemkot Bogor saat ini mulai menggalakkan program sanitasi yang layak bagi masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat beralih dari sungai sebagai tempat MCK mereka ke sumur/kamar mandi yang lebih layak. Dengan demikian, pencemaran sungai bisa dikurangi.

Hal yang sama juga disampaikan Bupati Bogor Rachmat Yasin yang menilai membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menata bantaran sungai. "Memang ada aturannya untuk mengosongkan 20 meter dari bantaran sungai dari permukiman. Namun, itu kan, program jangka panjang. Tidak bisa sekaligus kita ubah perilaku mereka," ujar RY.

Di Kabupaten Bogor, selain Ciliwung ada pula Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas yang mulai mengalami kondisi serupa. Selain karena perilaku masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, beberapa sungai di Kabupaten Bogor juga tercemar limbah pabrik. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami pendangkalan parah. Padahal, sungai memiliki peranan penting sejak dari zaman peradaban manusia. Kehidupan sungai, sesungguhnya tidak akan pernah terlepas dari proses mata rantai kehidupan manusia itu sendiri. Lalu jika bukan kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan sungai? (wid/den)

.