Daging Ayam Sakit Beredar Bebas di Pasar

©ilustrasi tb

Transbogor.co - Ketua Umum Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Ade M Zulkarnain membeberkan temuannya soal peredaran daging ayam di pasar lokal dalam kondisi tidak sehat. Dinyatakan demikian karena daging-daging tersebut tidak dilengkapi sertifikat sehat berupa Nomor Kontrol Veteriner (NKV).

"Peredaran daging ayam sakit ada di pasar tradisional dan modern, temuan kami di supermarket sejak Agustus-Desember 2015, semua pasar menjual daging ayam tidak sehat," katanya, Senin (11/1).

Himpuli lebih menyoroti peredaran daging ayam tidak sehat di supermarket karena supermarket seharusnya menjadi contoh pasar yang menjual produk berkualitas dan memenuhi standar persyaratan.

Daging ayam yang dijual di pasar seharusnya memiliki sertivikat veteriner berdasarkan pasal 58 UU Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bagi pelaku yang tidak taat seharusnya dijatuhi hukuman pidana penjara 2-5 yahun dan denda Rp 1,5 miliar. Hal tersebut berdasarkan pasal 86 UU terkait.  

Ia menerangkan, kewajiban sertifikat NKV ada di pemasok. NKV dikekuarkan oleh Dinas Peternakan propinsi berdasarkan audit di Rumah Pemotongan Hewan. Artinya, penyembelihan hewan ternak wajib dilakukan di RPH atau RPU.

Oleh karena itu, tudingan bahwa asal usul daging ayam sakit dari anggota Himpuli terbantahkan karena pemasok ayam lokal tidak menyembelih ayamnya di RPU yang berstandar dan bersertifikasi NKV.

"Jadi alurnya, awalnya dari peternak atau pemasok, lanjut ke pengepul, kemudian ke supplier supermarket, disembelih dan didistribusikan ke supermarket," katanya.

Ade lantas mencontohkan temuannya baru-baru ini terhadap salah satu supplier atau pemasok terbesar ayam lokal yang berlokasi di Parung. Ditemukan, teknis dan lokasi penyembelihannya sangat tidak higienis.(Ahm/rep)

.