3.495 Sarjana Tasikmalaya Menganggur

©ilustrasi tb

Transbogor.co - Angka pengangguran di Kota Tasikmalaya setiap tahunnya terus bertambah. Hingga Desember 2015, tercatat ada 3.495 sarjana dan 1.527 diploma III yang menganggur.

Kabid Pelatihan Peluasan Kesempatan Kerja dan Transmigrasi (PPK) Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Tasikmalaya, Nina Setiamah mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan banyaknya sarjana yang menganggur. Salah satunya karena kebutuhan perusahaan kerap tidak sesuai dengan jurusan para pencari

"Sehingga mengakibatkan tidak terjadi sinkronisasi kebutuhan perusahaan dengan lulusan perguruan tinggi," kata Nina, Selasa (2/2).

Ia mencontohkan, banyak lulusan sarjana ekonomi, tapi perusahaan membutuhkan lulusan dari jurusan lain selain ekonomi. Maka, kebutuhan perusahaan dengan jurusan para pencari kerja tidak sinkron.

Sementara, fakta di lapangan jumlah lowongan kerja sangat terbatas. Artinya, lowongan kerja lebih sedikit dari jumlah pencari kerja. Beberapa hal inilah yang mengakibatkan banyaknya sarjana yang menganggur.

Selain itu, Nina mengungkapkan, semakin bertambah banyaknya jumlah penduduk dan urbanisasi juga bisa mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. Di sisi lain, pada tahun ini Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dikatakan Nina, jika sarjana negeri ini kalah bersaing, maka akan mengakibatkan mereka semakin sulit mencari pekerjaan. "Pasti lebih banyak sarjana yang menganggur kalau mereka kalah bersaing saat menghadapi MEA," kata Nina.

Dinsosnakertrans mencatat sampai Desember 2015, terdapat 57 lulusan sekolah dasar yang mencari kerja dan 12 orang di antaranya sudah ditempatkan atau mendapatkan pekerjaan. Tercatat ada 296 orang lulusan SMP yang belum mendapatkan pekerjaan. Kemudian, tercatat ada 10.614 lulusan SMA dan diploma I serta diploma II belum mendapatkan pekerjaan.

Nina menegaskan, untuk mengurangi jumlah angka pengangguran diperlukan niat dan kesungguhan dari pemerintah. Sejauh mana pemerintahan kota fokus pada masalah pengangguran. Tentu di samping itu semua perlu adanya komunikasi dan kerja sama yang saling bersinergi antara pihak pemerintah, masyarakat pencari kerja, perusahaan, dan dunia pendidikan. Masalah pengangguran tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja.

Sejauh ini, Dinsosnakertrans sudah berupaya agar bisa menekan angka pengangguran ini. Salah satunya dengan program meningkatkan daya saing para pencari kerja. Tapi bagaimana pun, diperlukan kerja sama yang bersinergi antara semua pihak agar angka pengangguran dapat teratasi.(Ahm/rep)

.