Ini Perbedaan Racun Mirna dan Aktivis Hak Azazi Manusia Munir.

©ilustrasi tb

Transbogor.co- Racun sianida yang dicampur dalam kopi yang diminum Wayan Mirna Salihin lebih mematikan dibandung racun arsenik yang menewaskan aktivis hak azazi manusia, Munir.

Kepala Bidang Kedokteran Kesehatan Polda Metro Jaya, Kombes Musyafak, mengatakan sifat sianida lebih mematikan dibandong arsenik. “Sianida lebih berbahaya dari pada arsenik,” ujarnya, Kamis (4/2/2016).

Membanding dua kasus pembunuhan dengan menggunakan racun, menurutnya, sianida lebih membahayakan bagi manusia. “Racun ini bikin lambung iritasi, karena sifatnya yang korosif hingga lambung pendarahan. Hasil otopsi kan gitu,” sambungnya. “Kalau arsenik, karena sifatnya toksin, bukan asam kuat, reaksinya (pada Munir) nggak secepat Mirna. Kemarin itu kan hanya hitungan menit.”

Sianida, lanjutnya, sama sekali tak ada manfaatnya pada tubuh karena sifatnya itu. Umumnya, sianida dipakai untuk pertambangan sedang arsenik banyak dipakai untuk racun tikus.

“Kalau (sianida) hanya 0,00001, kecil sekali, jadi tidak membahayakan manusia. Yang membahayakan kalau 1 mg/kg berat badan. Dalam kopinya (Mirna) mengandung 1.500 mg, 15 g, ya cepat sekali (reaksinya),” katanya.

Kematian Mirna masih menjadi teka-teki. Perempuan 27 tahun ini tewas usai meminum sedikit es kopi Vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia, pada 6 Januari 2016. Jessica datang lebih awal ke kafe tersebut lalu memesan dua cocktail dan kopi pesanan Mirna. (PK/Rief)

.