Jokowi : Pemberantasan Narkoba Harus Lebih Berani dan Lebih Gila Lagi

©ilustrasi tb

Transbogor.co- Presiden Joko Widodo siang ini memimpin rapat terbatas membahas pemberantasan narkoba dan program rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba di Kantor Presiden, Jakarta. Dalam pengantarnya, Jokowi menekankan perlunya hal-hal yang lebih 'gila' lagi untuk melakukan pemberantasan narkoba.

Sebab, Jokowi menilai bahaya narkoba berada pada rangking pertama yang harus dibasmi.

"Saya ingin agar ada langkah-langkah pemberantasan narkoba yang lebih gencar lagi, lebih berani lagi, yang lebih gila lagi, lebih komprehensif lagi dan dilakukan secara terpadu," kata Jokowi dalam pengantarnya, Rabu (23/2).

"Dan pada kesempatan ini saya ingin agar semua kementerian/lembaga menghilangkan ego sektoral, semuanya ramai-ramai. Karena ini menurut saya rangking pertama masalah besar kita," tambahnya.

Jokowi juga meminta agar di pintu-pintu masuk tempat narkoba diselundupkan ke Indonesia lebih dijaga ketat. Seperti penjagaan di Pelabuhan maupun di seluruh bandara.

"Tutup celah semua penyelundupan yang berkaitan dengan narkoba, di pintu-pintu masuk baik di pelabuhan maupun di bandara, maupun di pelabuhan kecil yang ada di negara kita," tegasnya.

Selain itu, Jokowi juga meminta kepada Polri dan BNN untuk melakukan sidak ke lapas paling tidak sebulan dua kali. Sebab, Lapas justru menjadi tempat yang paling mudah dalam melakukan transaksi narkoba.

"Secara rutin mungkin bisa sebulan dua kali, setiap bulan sekali. Lapas harus dicek secara mendadak oleh BNN dengan Polri. Karena menurut saya peredaran di situ mungkin lebih mungkin dari 15 persen peredaran yang ada," tukasnya.

Dalam rapat tersebut dihadiri oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso, Menkum HAM Yasonna Laoly, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. (mer)

.