Begini Keluhan Warga Pasar Ikan Setelah Dibongkar, Kapalpun Jadi Tempat Tinggal

©

Transbogor.co- Basri, sudah dua minggu lebih tak melaut. Kapal untuk mencari ikan miliknya kini menjadi tempat tinggal.

Ada anak-anak dia yang tidur dan bertempat tinggal di perahu. Basri dan istrinya, tidur di emperan reruntuhanSejak kontrakannya ditertibkan, Basri beralih profesi menjadi pemulung besi dan kayu.

"Sehari-hari buat makan jual besi sama kayu bekas rumah. Besi sekilo Rp 2 ribu, kalau kayu bisa Rp 200 ribu. Makan kadang masak kalau bisa beli beras, kalo nggak bisa ya beli nasi aja," terang Basri ditemui di Luar Batang, Kamis (14/4/2016).


Dia membandingkan dahulu saat masih melaut. Basri biasa mencari ikan di sekitaran Pulau Seribu. Kalau di sekitaran Luar Batang sudah tidak memungkinkan.

"Kalau dapat Gabus bisa Rp 250 ribu sehari, kalau Tenggiri bisa sampe Rp 500 ribu. Berangkat jam 3 sore pulang jam 8 pagi," urai dia.

Entah sampai kapan Basri akan bertahan di perahu. Dia mengaku akan mencari kontrakan di sekitar Luar Batang.

Sebenarnya, Basri sudah ditawarkan pindah ke Rusunawa, tetapi melihat pekerjaannya sebagai nelayan amat sulit apabila melihat jarak.

"Nggak mau pindah ke Rusun soalnya jauh, sedangkan kita kan nelayan. Modal mau jualan nggak dikasih, kalau bolak balik Rawa Bebek biayanya gede. Emang ada laut di Rawa Bebek?" tutup dia. (Det)

.