Obat Program Untuk TBC Gratis

©

Transbogor.co- “Langkanya” obat bagi penderita atau pasien TBC (Tubercolosis) di apotik-apotik, menurut Kepala Seksi Pencegahan Pemberabtasan Penyakit Menular (Kasi P3M) Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Siti Robiah, lebih disebabkan karena obat bagi pasien TBC sudah termasuk ke dalam Obat Program.”Disebut Obat Program karena obat ini dikhususkan bagi para penderita yang terjangkit penyakit menular yang proses penularan secara langsung tanpa media. Contohnya TBC, Kusta, Malaria dan penyakit Kaki Gajah. Obat ini grand,” Jelas dr. Siap di Kantor Dinas Kesehatan Kota Bogor

Bagi pasien TBC, Obat Program ini terdiri dari empat jenis, dimana dalam proses pengobatannya lanjut dr. Siti, akan diawasi mulai dari awal pengobatan hingga semua. ”Waktu pengobatan yang akan dijalani selama enam bulan. Selama kurun waktu tersebut, pasien akan diawasi secara benar-benar dan intens, dicatat semua data yang terkait dengan pasien dan obat yang dikosumsi. Strategi ini kita namakan DOTS (Directly Observed Threatemt Sortcourse), pengobatan jangka pendek yang diawasi secara langsung. Jadi pasien gejala TB yang mengalami batuk-batuk dua minggu atau lebih, diperiksa dahaknya. Mulai dari dari gejala ditangani hingga semua. Tujuan dari strategi ini untuk memutus rantai penularan dan menurunkan angka kematian akibat penularan TBC, ” bebernya.

Dengan DOTS, pasien TBC tidak akan kesulitan menemukan obat yang akan dikonsumsi. “Karena obat yang dikonsumsi yang terdiri dari empat macam dalam satu paket. Salah satu yang sulit ditemukan di apotik adalah Rifampisin.” jelas dr. Obien, sapaan akrab dr.Siti Robiah.

Bagi pasien TBC yang tidak mau atau memiliki kesulitan dalam meminum obat ini, katanya, petugas kesehatan harus memberikan edukasi dan penyuluhan akan efek samping yang ditimbulkan. “Karena jika pengobatannya tidak teratur mengakibatkan kuman TBC-nya menjadi kebal, pada tahap ini TBC pasien menjadi TBMDR (TB Multi Drug Resisten). Pada akhirnya si pasien harus menjalani pengobatan yang lebih lama, obatnya disuntik selama enam bulan dan meminum obatnya selama dua tahun, yang jumlahnya lebih dari dari 8 butir obat sekali minum,” bebernya.

Sejak kasus TBC ditemukan pada tahun 2013 di Kota Bogor, kata Siti dari 57 kasus, baru 5  pasien yang sembuh. Untuk pasien TBMDR (Tubercolosis Multi Drug Resisten) sudah ada enam yang meninggal dan ada 8 pasien TBC yang putus obat. “Yang putus obat ini yang beresiko menularkan TBC ke keluarga dan masyarakat lain nya,” terangnya.

Siti merinci saat ini sudah ada 5 rumah sakit Kota Bogor yang sudah memiliki Poli DOTS diantaranya RS. Hermina, RS Marjuki Mahdi, RS Salak, RS Medica Dramaga, RS Melania dan Lapas Paledang. “Kita juga sudah memberikan pelatihan terkait SDMnya. Belum lama ini kita sudah gelar pelatihan bagi SDM Poli DOTS yang berasal dari RS PMI, Azra, RSUD, BMC dan RS Islam, yang akan ditindak lanjuti dengan MOU dengan Dinkes Kota Bogor,” terangnya. Dengan MOU ini, kata Siti, rumah sakit yang memiliki poli DOTS akan mendapat Obat Program TB berstandar WHO.

Siti menekankan ada mind set yang salah di masyarakat, bahwa obat gratis itu khasiatnya tidak sebagus obat dari dokter spesilialis. Padahal obat prona TBC ini berstandar WHO dan memiliki khasiat yang bagus. “Nantinya ketika berobat pasien TBC hanya membayar biaya untuk dokternya saja tidak bagi obatnya, karena gratis.” tukasnya.

.