Rp 3 Triliun Dana Koperasi Diduga “Dimainkan” Bos Cipaganti

  Pimpinan Cipaganti Group, Andi Setiabudi. Foto : Ist

Bandung, Trans Bogor,-  Penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Jabar menahan orang nomor satu di perusahaan Cipaganti Group, AS. Dia ditahan karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Martinus Sitompul membenarkan informasi tersebut.

"Benar yang bersangkutan ditahan. Namun, kapan penahanannya masih saya perlu cek kembali ke penyidiknya," kata Martinus Senin, (23/6).

Martinus mengatakan, AS ditahan atas sangkaan pasal 372 (penipuan) dan 378 (penggelapan) KUH Pidana.

"Dugaannya yang bersangkutan melakukan penipuan dan penggelapan melalui koperasi yang dikelolanya," ujar Martinus.

Martin tidak membantah inisial AS adalah orang nomor satu sekaligus pendiri perusahaan Cipaganti. Sebuah perusahaan yang semula bergerak di penyewaan alat berat dan kini berkembang ke bisnis travel dan wisata.

Tolak Pailit

Beberapa hari sebelum bos Cipaganti Grup  ditahan, ribuan investor atau mitra Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada (KCKGP) pimpinan Andianto Setiabudi menggalang kekuatan guna mengupayakan agar koperasi dibawah naungan  Cipaganti Group tidak pailit.

Mereka sepakat menolak Koperasi Cipaganti pailit.

“Sebab, kalau koperasi dinyatakan pailit, modal pokok mitra malah lebih sulit kembali. Kasihan mereka, sebab mitra itu banyak dari kalangan pensiunan,” kata B Artha Bachtiar, Kamis (19/6), di Bandung.

Mereka yang berjumlah sekitar 1000 investor dan mitra Koperasi Cipaganti akhirnya berkumpul dan berkoordinasi di GOR Pajajaran, Kota Bandung, Kamis lalu, untuk menyepakati menarik modal yang mereka investasikan lewat mekanisme penyertaan modal dalam KCKGP.

Jumlah mitra KCKGP sekitar 8.000 mitra dengan total penyertaan modal sekitar Rp 3 triliun. Dana itu yang diduga “dimainkan” AS hingga membawanya ke tahanan. Catatan sementara sekitar ratusan miliar diduga digelapkan.

Juru bicara Cipaganti Group Stanley Lengkong ketika dihubungi Trans Bogor via telepon tidak merespon. Begitu pun pesan singkat yang dikirim juga tidak dijawab.

Gejolak di kalangan investor mencuat setelah KCKGP mengalami penurunan likuiditas sehingga tidak mampu membayar profit atau imbal hasil bulanan mitra. Mulai November 2013, pembayaran imbal hasil bulan tersendat.

Dua investor mengajukan gugatan pailit di Pengadilan Niaga pada Pengadilan negeri Jakarta Pusat. Pengadilan Niaga pada 19 Mei 2014 menyatakan KCKGP berada dalam status Penundaan Kewajibab Pembayaran Utang (PKPU).

Cipaganti Group membentuk Devisi Mitra Usaha Cipaganti tahun 2002 lewat KCKGP. Koperasi ini menawarkan kerja sama investasi kepada masyarakat untuk pembiayaan pembelian kendaraan dan alat-alat berat di bidang transportasi.

(adh/kom).

.