Properti Hunian Paling Berpotensi di Bogor Adalah Ciomas dan Pamoyanan

©ilustrasi

Trans Bogor--  Setelah kawasan Sentul berkembang menjadi kota satelit hunian mewah -- yang memicu modernisasi Kota Bogor, maka Sentul pun diberi julukan sebagai ”Gerbang Kota Bogor”. Walaupun Sentul bukanlah berada di wilayah administrasi Kota Bogor, namun penilaian pasar properti begitu tinggi terhadap Sentul. Harga tanah matang sampai mengalami kenaikkan harga rata-rata per tahun hingga Rp4,5 juta per meter persegi. Dan setelah Sentul -- lalu ada dua kawasan lain yang berpotensi bernilai tinggi di masa depan, yakni kawasan Ciomas dan Pamayoman -- yang kecipratan oleh berkembangnya kawasan properti resort di Sentul.  

Tingginya harga properti di Sentul seakan menjadi stimulus bagi daerah-daerah perbatasan di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor di bagian selatannyan. Yaitu Ciomas dan Pamoyanan yang merupakan dua lokasi yang dianggap menjadi pilot project para developer/pengembang untuk membuat hunian skala besar. Namun menariknya, para developer yang sudah menguasai lahan di Ciomas dan Pamoyanan masih bersikap ematy terhadap kelas menengah-bawah. Para developer selain membangun hunian mewah, juga membangun hunian tapak dengan harga yang terjangkau masyarakat luas.

Ciomas adalah nama kecamatan di Kabupaten Bogor, yang diperuntukan sebagai lokasi hunian terbesar di Kabupaten Bogor. Luas Kecamatan Ciomas adalah 1630,537 hektar. Jarak dari Ciomas menuju titik nol Kota Bogor lumayan dekat, sekitar 3 Km.

Sekarang ini mudah untuk menemukan orang yang bekerja di Jakarta tetapi rumahnya pindah ke Ciomas. Apalagi akses ke Jakarta mudah dengan kereta commuter line dan disambung dengan bus way untuk sampai ke kantor.

Selain Ciomas, geliat pembangunan perumahan baru adalah di daerah Pamoyanan yang ada di Bogor Selatan, di tengah hamparan hijau kaki Gunung Salak. Menurut Adi Kusuma, selaku agen properti PT. Graha Mandiri Properti, melihat keistimewaan Pamoyanan adalah adanya rencana pembangunan akses tranportasi Tol Bogor Ring Road/BORR. Luar biasa Bogor ya perkembangannya. Tapi jangan lupa menjaga keseimbangan alam, konservasi hutan dan lahan perkebunan -- agar air hujan bisa diserap tanah, agar Bogor tak selalu disalahkan sebagai penyebab banjir kiriman ke Jakarta dan Bekasi. (Edo)  

.