Selamat Datang Presiden Baru

  foto:Dok

Rakyat Indonesia telah menggunakan haknya untuk memilih pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa serta Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 9 Juli 2014.

Kini saatnya menantikan dan menyambut hasil rekapitulasi perolehan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) 22 Juli 2014 dengan jiwa kesatria dan penuh rasa persaudaraan.

Suksesi kepemimpinan di semua negara merupakan salah satu masa paling penting dan menentukan.
Saat pergantian pemimpin berlangsung, semua pihak menginginkan berjalan secara damai, lancar, dan diterima oleh semua elemen bangsa.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai ada dua titik kritis pada proses Pemilihan Umum Presiden 2014 pascapemungutan suara 9 Juli lalu.

Pertama, pada 22 Juli 2014 saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan dan mengumumkan perolehan suara nasional Pemilu Presiden dan Wapres. Barang kali yang dinyatakan menang akan senang, sedangkan, yang dinyatakan kalah mungkin tidak segera menerima. Yang penting jangan ada gangguan keamanan antar-masyarakat.

Kedua, masih ada saluran lagi, Mahkamah Konstitusi yang memutuskan bila ada perselisihan, tiga minggu atau empat minggu sehingga ada dua titik kritis itu, kata Presiden saat memberikan sambutan dalam buka puasa dengan tokoh masyarakat dan ulama Sumatera Utara di Medan, Selasa (15/7).

Presiden menilai proses pemungutan suara berjalan baik meskipun ada peningkatan suhu politik karena klaim kemenangan berdasarkan penghitungan cepat.

"Saya sebut kemelut politik kerena kedua pihak klaim kemenangan atas dasar hitung cepat," katanya.

Presiden kemudian menerima pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pada Rabu (9/7) malam dan berkomunikasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pasangan capres dan cawapres itu sepakat untuk memelihara situasi yang tenang dan damai, bisa mengontrol dan mengendalikan pendukungnya, menunggu hasil penghitungan suara dari KPU.

Kepala Negara juga telah berkomunikasi dengan Ketua KPU dan meminta agar proses penghitungan suara dilakukan dengan baik, transparan dan menghormati pilihan rakyat.

"Saya optimistis bangsa ini bisa mengatasi semua persoalan yang dihadapi," kata Presiden.

Siap Menang Siap Kalah

Presiden juga menyerukan semua pihak bersikap bijak dan arif dalam menghadapi hasil pilpres yang akan diumumkan pada 22 Juli oleh Komisi Pemilihan Umum sehingga tidak menjadikan demokrasi mundur kembali.

Presiden berharap KPU, MK (Mahkamah Konstitusi), pasangan capres dan cawapres penuh tanggung jawab kepada bangsa dan negara, bisa menyikapi dengan tepat dan arif.

Pihak yang menang tidak berlaku arogan dan pihak yang kalah tidak perlu bersedih secara mendalam apalagi melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Siapapun yang akan memenangkan Pemilu Presiden dan Wapres juga merupakan kemenangan rakyat yang telah melaksanakan hak politiknya guna membangun iklim demokrasi yang lebih baik.

Presiden menyerukan perselisihan terkait penghitungan suara diselesaikan secara konstitusional melalui Mahkamah Konstitusi.

Presiden Yudhoyono meminta KPU mengundang, mengajak dan melibatkan kedua pasangan dan timnya untuk mengawasi penghitungan suara agar mereka melihat langsung proses dari hari-ke hari perhitungan itu sehingga saat pengumuman, mereka tahu proses itu berlangsung dengan cermat".

Pers dan media massa juga diharapkan turut menenangkan situasi pascapemilihan presiden, tidak terlalu vulgar dengan pemberitaan yang bisa memicu makin tegangnya situasi dan benturan fisik secara horizontal.

"Saya memberikan seruan pada media massa, agar tidak terlalu partisan, tidak terlalu berpihak membabibuta agar pemberitaannya balance. Agar pers mendapat kepercayaan rakyat kita," kata Presiden menambahkan.

Kepala Negara juga juga menginstruksikan TNI dan Polri terus mengawasi dari sisi pengamanan hingga situasinya normal kembali.

Proporsional Menko Polhukam Djoko Suyanto meminta masing-masing kubu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dapat mengajak pendukungnya masing-masing untuk bersikap proporsional karena hasil hitung cepat bukan merupakan hasil resmi dari pemungutan suara.

"Hasil pemilihan umum pilpres yang sah dan resmi adalah hasil penghitungan suara yang secara akumulatif akan diumumkan oleh KPU pada 22 Juli," kata Djoko Suyanto.

Klaim kemenangan kedua kubu kandidat hendaknya disikapi dengan bijak dan tenang. Kedua kubu pasangan calon wajib mengajak seluruh pendukungnya untuk bersikap dan bertindak sewajarnya, tidak berlebihan dan bersama-sama menciptakan rasa aman.

Menko Polhukam mengingatkan segala tindakan yang anarkis justru akan merugikan bangsa dan negara.

Semua harapan itu akan berjalan dengan baik bila semua tim sukses capres dan cawapres menyadari kepentingan untuk menjaga bangsa dan negara aman, damai serta tertib, lebih berharga dari kemenangan itu sendiri.

Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Somantri

“Kita Nantikan Jiwa-jiwa Kesatria…”

"Pemilu adalah proses biasa dalam berdemokrasi. Kita menantikan jiwa-jiwa kesatria yang bisa menerima hasil pemilu dengan dewasa, karena siapapun presidennya rakyat tetap merupakan pemilik kekuasaan yang sebenarnya," kata mantan rektor Universitas Indonesia Gumilar Somantri di Jakarta, Sabtu (19/7).

Gumilar mengimbau agar dua kubu capres beserta relawan dan masyarakat, bisa menerima hasil Pilpres dengan lapang dada. Seluruh pihak harus mencermati, menjaga, dan mengawal apa yang dilakukan penyelenggara pemilu terhadap suara rakyat.

Bagi pihak yang tidak puas atas hasil yang diumumkan, maka telah tersedia koridor hukum yang ada yaitu Mahkamah Konstitusi (MK).

"Saya menyarankan capres pemenang memberikan ucapan terima kasih terhadap pihak yang kalah dengan kerendahan hati, dan sikap tulus. Sementara pihak yang kalah harus mengajak publik menyikapi dengan dewasa, dan apabila tidak puas maka mengajak publik tenang karena ada koridor hukum di MK, ini lah jiwa kesatria," kata dia.

Lebih jauh Gumilar meyakini pengumuman Pilpres akan berjalan damai. Karena menurut dia, seharusnya kekecewaan masyarakat sudah terminimalisir ketika mengetahui capres pilihannya kalah saat penghitungan di sejumlah TPS.

Di sisi lain, kata dia, tokoh-tokoh masyarakat di Pulau Jawa, sebagai pulau yang padat penduduk, diyakini mampu meredam tingginya tensi di tataran akar rumput.

"Perhitungan saya masyarakat Jawa Barat meskipun dekat dengan pusat kekuasaan, tapi mereka cukup terbuka, cerdas dan realistis, sehingga kecil kemungkinan terprovokasi," kata dia.

Sedangkan wilayah Jawa Timur memiliki banyak ulama yang menjadi panutan dan bisa meredam gejolak di masyarakat.

"Yang harus dicermati basis merah atau basis PDIP di Jawa Tengah, seperti Solo, Boyolali, Klaten, Purworejo, Magelang dan sebagainya. Tapi kalau dilihat di daerah-daerah tersebut, juga memiliki tokoh yang bisa meredam," kata dia.

Peneliti Senior Indonesia Institute Karyono Wibowo:

“Kita harus Belajar dari Piala Dunia Brasil…”


Peneliti Senior Indonesia Public Institute Karyono Wibowo mengatakan, Pilpres kali ini hendaknya dipandang dan dilakoni seperti pertandingan sepak bola yang meskipun berlangsung keras namun hasilnya tetap dapat diterima seluruh pihak dengan saling menghormati.

"Kita belajar dari sepak bola Piala Dunia Brasil. Meskipun ada permainan keras, tetapi hasil pertandingan masing-masing pihak bisa menerima, saling merangkul, dan berdiri tegak," ujar Karyono.

Dia mengatakan, tidak bisa dipungkiri dalam politik ada kampanye negatif hingga kampanye hitam. Namun hasil akhir semata-mata harus dipandang demi kepentingan rakyat dan bangsa.

Sementara itu relawan kedua pasangan capres yakni Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) pun telah menyatakan kesiapannya menjaga kedamaian Pilpres dengan cara menerima apapun keputusan KPU pada 22 Juli 2014 mendatang.

"Kita ikuti apapun hasil di KPU. Siapapun pasangan yang menang, pemenang sesungguhnya adalah rakyat," ujar ketua relawan Jokowi, Projo, Budi Arief Setiadi.

Pernyataan Budi diamini Ketua Relawan 44, Syarief Hidayatullah yang mengklaim membawahi 700 organisasi relawan Prabowo-Hatta. Syarief menekankan pihaknya juga menginginkan suasana damai pada 22 Juli 2014.

"Kami dari koalisi relawan Prabowo-Hatta mengajak semua pihak bersikap dingin. Keputusan apapun yang diambil KPU pusat kami siap menerima, baik kalah atau pun menang," ujar Syarief.

Bukan akhir segalanya Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Muhammad mengatakan, sesungguhnya kekalahan dalam pemilu presiden bukan lah akhir dari segalanya, maka dia mengimbau kedua pasangan capres-cawapres berbesar hati menerima apapun hasil rekapitulasi perolehan suara Pemilu Presiden pada 22 Juli 2014.

"Kalau ada yang kalah, Pilpres jangan dianggap kiamat. Kita semua itu pemenang dalam Pilpres," kata Muhammad.

Muhammad meminta seluruh pihak menciptakan suasana yang selalu teduh, terutama di bulan ramadhan saat ini.

Dia juga menegaskan bahwa tanggal 22 Juli 2014 hendaknya tidak dianggap sebagai ajang pertarungan yang keras antar kedua kubu pendukung pasangan capres-cawapres.

"Karena kemenangan sesungguhnya adalah ketika seseorang bisa menerima kekalahan dengan besar hati," ujar dia.

(adh/ant)

.