Desa Sukamulya, Potret Buram Pendidikan Anak di Bogor

©

Trans Bogor--  Kampung Cibuyutan, Desa Sukamulya, adalah potret buram pemukiman di Kabupaten Bogor. Salah satu ciri keterbelakangan di kampung berpenghuni 57 keluarga itu – hanya dialiri listrik dari sumber spanel surya -- sebagai energi alternatif. Tapi ketika musim hujan, panel surya itu hanya bisa sedikit menampung cadangan energi listrik. Rumah-rumah penduduk di malam hari hanya mendapat penerangan sekadar ada cahaya. Anak-anak kampung kesulitan untuk belajar pelajaran sekolah maupun mengaji.

Sedangkan pasokan listrik di kawasan pusat Desa Sukamulya, juga didapat dari energi alternatif yaitu kincir air yang dibuat warga. Hal ini juga mengakibatkan sebagian besar anak-anak di Sukamulya tidak mau bersekolah.

Dari segi ekonomi, putaran uang di Kampung Cibuyutan relatif minim. Karena komoditi hasil pertanian dan peternakan masyarakatnya lebih utama untuk dipakai buat rumahtangga. Sistem barter hasil bumi antar warga pun masih mewarnai denyut perekonomian mereka. Teknologi komunikasi juga sulit mendapatkan sinyal. Omong kosong dengan program pemerintah ”internet masuk desa”. Kalau ingin menonton tayangan televisi, sebagian besar warga harus pergi ke kantor desa atau ke beberapa rumah kerabat atau teman di pusat desa yang memiliki televisi.  

Ketika matahari bersinar mengawali hari, laki-laki dewasa dan lansia pergi ke ladang -- sebagian ditemani sang istri, untuk memupuk harapan menuai rezeki bila panen tiba. Sedangkan anak-anak hanya sebagian kecil yang pergi ke sekolah. Pasalnya, mereka kurang bergairah untuk bersekolah. Ada madrasah namun tanpa dilengkapi alat belajar mengajar yang wajar, seperti tak ada bangku sekolah, lampu dan sebagainya. 

Untuk tenaga pengajar saja, masih belum ada pengajar atau guru tetap. Media untuk menjelaskan pelajaran dari buku diktat yaitu papan tulis hanya ada satu -- yang digunakan bergantian untuk sekitar 50 murid dari kelas yang berbeda. Miris !!!

Ini sangat ironis dengan motto pembangunan Kabupaten Bogor yang berbunyi ”Bumi Tegar Beriman”, tetapi di Desa Sukamulya warganya hanya dibiarkan untuk berjiwa ”tegar” saja dan tentu kesulitan untuk memahami hakikat ”beriman” bila sarana pendidikannya dibiarkan terbelakang.

Sementara itu kita bisa dengan mudah menemukan di banyak lokasi di Kabupaten Bogor telah menjamur sekolah umum modern termasuk juga pesantren yang seakan bersaing adu pamor dengan kemegahan gedung dan fasilitas pendukungnya serta nama besar sang kiyai-nya. Lalu kenapa tak ada subsidi silang dari sekolah yang megah kepada sekolah yang miskin ? Kenapa juga tak ada inisiatif untuk berafiliasi membangun kecerdasan anak di kampung yang tertinggal ?  

Untungnya saja para orangtua yang menyekolahkan anaknya di kampung dan desa itu terpecut oleh sebuah harapan untuk masa depan anaknya -- yang didengungkan oleh para guru relawan, bahwa sekolah itu bisa membuat anak jadi bisa baca, menulis dan berhitung sehingga bisa diterima bekerja di kota dan membangun kemajuan desa.

Harapan yang sederhana. Tapi ampuh untuk menyadarkan orangtua menyekolahkan anaknya. Ketimbang langsung memberikan dogma impian yang muluk, misalnya dengan mengatakan ; ”Dengan sekolah bisa menjadi dokter, tentara, polisi, PNS atau jadi presiden,” sedangkan sarana belajar saja jauh di bawah batas kewajaran.

Beruntung para guru relawan masih bersemangat juang tinggi, karena melihat anak-anak kampung bersemangat mengikuti pelajaran. Para guru relawan pun hanya mengabdikan ilmunya sebagai amaliah untuk mencerdaskan anak bangsa, kendati banyak keterbatasan.

Ini menjadi catatan penting buat bahan evaluasi pemerintah Kabupaten Bogor sehubungan peringatan ”Hari Anak Nasional” pada Sabtu (23/7/2016). Agar tidak sekadar untuk diperingati, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pemerataan kemajuan pembangunan di bidang pendidikan. (Edo) 

.