Proyek Pakansari Banyak Kejanggalan, Siapakah Yang Bermain ?

©

 

Transbogor.co- Tender belanja fasilitas pembangunan stadion Pakansari dipertanyakan sejumlah kalangan, pasalnya Proyek senilai Rp 138 miliar lebih ini banyak kejanggalan. Siapakah yang bermain didalam Proyek ini ?

Direktur Eksekutif Gemitra Sabam Manise, Mempertanyakan kompetensi panitialelang yang dinilainya tidak jeli dalam melakukan verifikasi. “Menurut data dan analisis kami, proses lelang itu tidak transparan,’ujar dia.

Sabam mengungkapkan, pemenang lelang proyek itu memiliki banyak kejanggalan dalam prosesnya. Misalnya, Sport Technology International (STI) dalam RKS harus merupakan pabrikan dari sub kontraktor specualis tunggal yang memberikan dukungan kepada Jaya Kontruksi. Padahal,menurt dia, STI merupakan pabrik rumput sintetik yang tidak tercantum dalam daftar pabrik yang memproduksi rumput sintetik rekomendasi FIFA.

Selain itu, ungkap Sabam, surat tanda pendaftaran sebagai distributor tunggal milik sub kontraktor specialis dari Jaya Kontruksi yang diterbitkan Kementerian Perdagangan dan surat dukungan sesuai spesifikasi teknis dan pabrikan tyming system semuanya tidka menyebutkan “IT Athletic”. Bisa saja timing yang dimaksud adalah untuk renang, balapsepeda, pacuan kuda dan lainnya.

"Bahkan pemenang lelang tidak melampirkan surat garansi rumput sintetik selama 8 tahun. Padahal dalam RKS halaman D-59 point 7 disebutkan kontruksi material rumput sintetik garansi 8 tahun,” ungkapnya.

Selain tidak malampirkan surat pernyataan semua peralatan masuk dalam penawaran pekerjaan IT Atheletic dan timing sistem tidak sesuai dengan RKS. Juga tidak melampirkan kesanggupan pengadaan master clock.

"Kita ingin semua venue Asian Games yang dibangun tidak gagal fungsi dan konstruksi akibat tindakan panitia lelang. Kalau memang perusahaan tidak memenuhi syarat untuk mengerjakan suatu proyek lebih baik dibatalkan. Jangan sampai duit negara habis hingga ratusan miliar rupiah tapi hasilnya asal jadi. Ini tidak bileh terjadi,” katanya.

Sabam meminta Bupati Bogor untuk turun tangan menyelesaikan permasalahan itu. Dia menduga ada ‘permainan” dalam penentuan pemenang lelang proyek prestisius yang didanai dari APBD itu.

“Banyak kekurangan kok bisa dimenangkan. Pemenang yang ditunjuk tidak memenuhi kriteria dan kami minta proyek itu segera di lelang ulang,” katanya (Rief)

 

.