Depresi Ditinggal Istri, Warga Desa Cipinang Rumpin Dipasung

©ilustrasi

Transbogor.co- Tak sedikit penduduk Indonesia yang dipasung, dan dibelenggu karena memiliki gangguan jiwa. Salah satunya, adalah Ahmad, seorang lelaki asal Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor yang kedua kakinya sudah dirantai baru beberapa hari.

 

Kisah menyedihkan pria 36 tahun ini diceritakan oleh Sarif (40), kakak kandung, warga Kampung Gunung Cabe, RT 04/RW 04, Desa Cipinang, tindakan ini dilakukan, karena Ahmad sering mengamuk dan merusak rumah.

Sarif menduga, kelakuan aneh Ahmad ini kemungkinan akibat mengalami depresi akibat ditinggal cerai istrinya. “Ahmad semasa masih sehat dan normal, sehari-harinya berjualan sate keliling. Namun, sudah hampir delapan bulan terakhir mengalami gangguan jiwa setelah bercerai dengan istrinya,” ujar Sarif, Jumat (2/9/2016).

Melihat kondisi itu, kata Sarif, keluarga langsung memasung Ahmad, karena sudah meresahkan warga sekitar yang lewat depan rumahnya. “Baru beberapa hari dipasungnya. Karena, selain sering mengamuk idi rumah, adik saya juga sering mengamuk kepada warga sini,” tuturnya.

Sarif mengaku tidak tega, namun dia dan keluarganya tidak bisa berbuat lain, demi menjaga kemungkinan jelek yang tidak diinginkan. Apalagi, jika harus berobat ke rumah sakit jiwa (RSJ).

“Saya sedih dengan keadaan adik saya, tapi juga bingung, karena nggak punya uang untuk membawa ke rumah sakit. Tentu saya berharap adanya bantuan pemerintah mengobati adik saya yang mengalami gangguan jiwa,” ujarnya dengan mimik wajah lesu.

Sarif juga mengisahkan, selama berumah tangga, adiknya tersebut belum dikarunia anak. Makanya, dia sering menyendiri, dan jarang mau ngobrol sama keluarga. “Sejak itu Ahmad jarang berkomunikasi, apalagi dengan keluarga,” tutupnya.

Melihat kondisi warganya tersebut, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Desa (Kades) Cipinang, Imamsyah langsung meninjau ke rumah keluarga Ahmad. “Kami akan coba bawa dulu ke Puskesmas Rumpin untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan. Selanjutnya baru kami akan tindaklanjuti untuk dibawa ke rumah sakit, sesuai penyakit yang dialaminya,” ujarnya.

Kisah kelam soal pemasungan ini, bukan yang pertama kali terjadi di Bumi “Tegar Beriman” atau Kab. Bogor. Dalam catatan dalam dua tahun terakhir ini, tercatat sudah ada tiga warga yang mengalami nasib serupa dengan Ahmad.

Relawan pendamping Psikososial Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kab. Bogor, Zainul Aksanmudin kepada wartawan mengaku sangat menyesalkan kejadian pemasungan yang dilakukan keluarga terhadap sanak saudaranya. Terutama, bagi warga miskin yang tidak memiliki biaya.

“Jika ada salah seorang anggota keluarganya yang memiliki penyakit serupa bisa segera menghubungi kecamatan, kami akan bantu menangani pengurusannya ke rumah sakit, termasuk membatu membuatkan BPJS agak cepat diatasi,” imbuhnya.

Kata Zainul, selain diberi perawatan secara medis, pihaknya juga memiliki program bagi para korban pasung untuk menjalani perbaikan Psikologi dan pelatihan-pelatihan sosial untuk mengembalikan kepercayaan dirinya sebelum benar-benar kembali ke masyarakat.

“Langkah pertama yang akan kita lakukan adalah mengurus dan memberikan kepastian soal syarat administrasi jaminan kesehatan, mulai dari BPJS PBI hingga kelengkapan identitas diri lainnya,” ujar Zainul. [Sas]

 

.