Camat dan UPT Puskesmas Tajurhalang Pantau Kegiatan Belkaga

©

Transbogor.co- Pencanangan bulan eleminasi kaki gajah (Belkaga) tahun kedua 2016, mulai dilaksanakan di wilayah Kabupaten Bogor.

Kini, program lanjutan pemerintah pusat untuk pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis tersebut dilakukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesehatan dan pemerintah Kecamatan Tajurhalang, Rabu (5/10/2016).

Di Kecamatan Tajurhalang, pelaksanaan giat dilakukan secara bergilir, mulai Rabu sampai 5 hari ke depan di tujuh desa yang ada.

“Giat ini diawali di Ds. Tajurhalang sebagai desa pertama untuk pemberian obat pencegah filariasis. Sambutan masyarakat luar biasa ini berkat sosialisasi yang gencar kami lakukan di setiap kesempatan,” terang Camat Tajurhalang, Nurhayati kepada wartawan.

Kata Nurhayati, untuk sasaran di wilayah Ds. Tajurhalang sebanyak 20.350 sasaran yang terbagi di 21 pos yang tersebar di Ds. Tajurhalang dengan rincian 3 kelompok usia, mulai umur 2-5 tahun, 6-14 dan 15-70 tahun untuk membedakan jumlah dosis masing-masing usia.

“Saya menginginkan yang terbaik buat masyarakat, dan tepat sasaran. Karena, ini bagian mensukseskan program pemerintah. Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Kec. Tajurhalang untuk segera datang ke pos yang berada di wilayah desa masing-masing dengan mengikuti aturan dan himbauan dari petugas yang berada di pos pemberian obat,” tandas Nurhayati

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Tajurhalang, dr. Dini S. Agustin menambahkan untuk jumlah ke seluruhan penduduk sasaran sebanyak 107.789, dan terbagi 94 pos  pelayanan di tujuh desa.

Setiap pos ada petugas dari kader desa didampingi petugas Puskesmas untuk memastikan pemberian obat secara benar dan tepat, sehingga program dari pemerintah ini dapat sukses sesuai harapan. “Itu sebab, perlu peran serta semua pihak, terutama masyarakat dengan datang ke tiap pos yang sudah kami sediakan,” imbuh Dini.

Dini menjelaskan, dalam pembagian obat pihaknya terlebih dahulu melakukan tensi darah untuk mengetahui tekanan darah agar sesuai standar saat pemberian obat. Karena, untuk penderita penyakit kronis, seperti jantung, liver, hipertensi itu tidak diperbolehkan meminum obat ini.

“Maka dari itu, setiap petugas dan kader sudah kita bekali dengan training dan pelatihan sehingga mereka sudah memahami dan mengerti sesuai prosedur medis,” tambahnya.

 

Reporter: Sabastian

Editor    : Arief Pramana

.